Burni Telong Semakin Bergejolak : Gempa Sehari Tembus 89 Kali

Burni Telong semakin bergejolak
Kondisi Burni Telong terlihat dari pos pemantauan

REDELONG (RA)Burni Telong semakin bergejolak di tengah Kabupaten Bener Meriah yang sedang berjibaku menghadapi bencana longsor.

Laporan terbaru Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan aktivitas seismik yang meningkat tajam, dengan 89 gempa tercatat hanya dalam satu hari pengamatan pada 4 Desember 2025.

Lonjakan ini menambah kecemasan warga yang masih bertahan menghadapi jalan terputus dan terbatasnya mobilitas akibat bencana alam yang melanda sejak akhir November.

Gunung Burni Telong, yang berada pada ketinggian 2.623 meter di atas permukaan laut, dipantau dalam kondisi cuaca berawan hingga mendung.

Visual gunung beberapa kali tertutup kabut, namun sesekali puncaknya terlihat jelas. Sepanjang pengamatan, petugas tidak melihat adanya asap kawah.

Namun, dinamika seismik menunjukkan adanya dorongan tekanan dari dalam tubuh gunung yang tidak bisa diabaikan.

Data PVMBG merekam 53 gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo mencapai 20–60 milimeter dan durasi 4–14 detik.  Aktivitas ini menandakan adanya retakan atau pergerakan tekanan dekat permukaan.

Selain itu, terekam pula 24 gempa vulkanik dalam, yang menjadi indikator pergerakan fluida atau magma dari kedalaman, dengan amplitudo 10–55 milimeter dan durasi 10–22 detik.

Aktivitas tektonik lokal terdata 10 kali sementara gempa tektonik jauh terjadi dua kali dengan durasi panjang hingga 100 detik.

Rangkaian aktivitas tersebut melanjutkan tren yang sudah meningkat sejak 1–3 Desember, ketika lebih dari 80 gempa vulkanik dalam terekam dalam tiga hari.

Pola ini menunjukkan adanya tekanan yang terus membesar di bawah tubuh gunung dan menjadi perhatian serius bagi tim pemantau.

Meski aktivitas Burni Telong semakin bergejolak, Badan Geologi memastikan bahwa status Gunung Bur Ni Telong tetap berada pada Level II (Waspada).

Namun, zona rekomendasi diperluas sebagai langkah mitigasi tambahan. Masyarakat, penduduk sekitar gunung, maupun pendaki dilarang memasuki area dalam radius tiga kilometer dari kawah.

Kawasan fumarola dan solfatara juga diminta dihindari terutama saat cuaca hujan atau mendung, mengingat potensi keluarnya gas berbahaya yang mungkin tidak terlihat.

Di tengah situasi longsor yang melumpuhkan sebagian akses vital, perhatian terhadap aktivitas Burni Telong menjadi semakin penting.

Kondisi darurat di lapangan membuat sebagian warga sulit mengakses informasi, sementara tim pemantau di Pos Pengamatan Gunung Bur Ni Telong di Desa Serule Kayu bekerja secara intensif untuk memastikan data terbaru dapat segera disampaikan.

PVMBG menegaskan bahwa informasi resmi hanya akan dirilis melalui Pos Pengamatan dan portal MAGMA ESDM.

Laporan harian disusun oleh petugas pos, Suwardi Putra, yang memastikan pemantauan dilakukan tanpa jeda mengingat situasi darurat berganda yang kini dihadapi Bener Meriah.(wen)

 

google

Baca Juga :Jejak Pengkhianatan di Tanah AAB: Dari Tim Survei Menjadi Penguasa Lahan