Harga Kopi Gelondongan Melonjak: Tembus Rp24 Ribu Per Bambu

Harga kopi gelondongan
Ilustrasi ini menggambarkan dilema petani yang harus mempercepat panen karena kekhawatiran pencurian, di tengah tingginya harga kopi.

REDELONG (20/10) – Petani kopi Arabika Gayo di Kabupaten Bener Meriah kini menghadapi dilema besar. Di satu sisi, mereka menikmati lonjakan Harga kopi gelondongan yang sangat tinggi.

Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan meningkatnya ancaman pencurian hasil panen.

Harga kopi gelondongan atau buah ceri merah saat ini melonjak fantastis hingga mencapai Rp24.000 per bambu, jauh melampaui harga normal.

Kondisi tersebut memaksa petani mengubah pola panen demi melindungi hasil kerja keras mereka.

Kenaikan harga kopi seharusnya membawa kabar gembira bagi petani. Namun, tingginya nilai jual justru menarik perhatian pelaku kejahatan.

Para pencuri mulai mengincar kebun-kebun kopi yang memasuki masa panen.

Untuk menekan risiko kerugian, petani di Bener Meriah memilih mempercepat jadwal panen dan memetik kopi setiap satu minggu sekali.

Arman (45), petani kopi di Kecamatan Bandar, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal petani biasanya melakukan panen dua minggu sekali.

Pola tersebut bertujuan agar buah kopi mencapai tingkat kematangan optimal sehingga kualitas dan kuantitas hasil panen tetap terjaga.

“Biasanya kami panen dua minggu sekali. Sekarang kami memilih memanen setiap minggu. Kami khawatir jika dibiarkan lebih lama, buah kopi keburu diambil maling” ujar Arman.

Dengan harga Rp24.000 per bambu, hasil curian sedikit saja sudah bernilai besar. Menurut para petani, perubahan pola panen ini menjadi strategi bertahan di tengah situasi yang tidak menentu.

Meskipun panen lebih cepat berpotensi menurunkan tingkat kematangan buah, mereka menilai langkah tersebut lebih aman dibandingkan harus kehilangan seluruh hasil panen akibat pencurian.

Situasi ini menciptakan kondisi yang ironis.

Petani memang merasakan keuntungan dari tingginya harga kopi gelondongan, namun pada saat yang sama mereka juga menanggung tekanan psikologis akibat rasa was-was.

Alih-alih fokus meningkatkan kualitas produksi, mereka justru harus memikirkan keamanan kebun setiap hari.

Para petani di Bener Meriah berharap lonjakan harga kopi benar-benar membawa peningkatan kesejahteraan tanpa disertai ancaman kriminalitas.

Mereka mendesak pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk meningkatkan patroli serta pengamanan di kawasan perkebunan kopi, terutama menjelang puncak musim panen.

“Kami berharap pemerintah dan aparat keamanan segera mengambil langkah nyata”.

“Jangan sampai tingginya harga kopi gelondongan di Bener Meriah justru membuat kami merugi karena hasil jerih payah kami dicuri,” tutup Arman.

Baca Juga :PWI Bener Meriah Mantapkan Komitmen, Dari Seremoni ke Aksi Nyata

acehtourism