KRISIS Bener Meriah : 37 Ribu Pengungsi Menderita, Akses Logistik Terputus Total

KRISIS Bener Meriah

Bener Meriah – KRISIS Bener Meriah telah mencapai titik genting, menenggelamkan kabupaten ini dalam penderitaan massal akibat banjir dan longsor yang tak terkendali.

Kini Bener Meriah menghadapi tragedi kemanusiaan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Ditetapkan sebagai zona darurat bencana, dataran tinggi Gayo ini telah menjadi saksi bisu penderitaan puluhan ribu warganya.

Fokus utama krisis adalah lonjakan drastis jumlah pengungsi dan lumpuhnya akses logistik yang mengancam keselamatan mereka.

Hingga Jumat, 29 November 2025, pukul 15.00 WIB, 37.306 jiwa warga memadati 27 titik pengungsian darurat. Angka ini adalah alarm bahaya.

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah secara terbuka mengakui kewalahan menghadapi skala bencana ini, di mana kebutuhan dasar 37 ribu orang di posko pengungsian sudah berada di ambang batas.

 Akses Lumpuh Total: Wajah Krisis Sesungguhnya

Penyebab utama penderitaan massal ini adalah isolasi total yang diciptakan oleh bencana. Banjir dan longsor telah memutus urat nadi kehidupan Bener Meriah. Laporan kerusakan infrastruktur sangat mengkhawatirkan:

  • 43 jembatan putus

  • 21 titik jalan terputus parah

  • Total 35 titik longsor dan 26 lokasi banjir yang menyumbat jalur utama.

Akibatnya, akses logistik untuk menyalurkan bantuan ke berbagai kecamatan praktis terputus total. Lebih dari sekadar kesulitan, ketiadaan akses ini telah menciptakan korban lain: 177.967 jiwa diperkirakan masih terisolasi di wilayah-wilayah yang sepenuhnya terputus dari bantuan.

Mereka adalah warga yang nasibnya kini tergantung pada persediaan makanan seadanya yang mereka miliki.

 Korban Jiwa dan Penderitaan di Pengungsian

Di tengah krisis logistik, duka mendalam tetap menyelimuti Bener Meriah. Bencana ini telah merenggut 19 korban jiwa. Sementara itu, tim SAR gabungan, yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan, bekerja keras mencari 31 warga lainnya yang masih dinyatakan hilang di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Kondisi di 27 titik pengungsian sangat memprihatinkan. Dengan lebih dari 37 ribu orang berkumpul di tempat yang terbatas, fasilitas sanitasi dan kesehatan berada di titik kritis. Ribuan anak-anak dan lansia berisiko tinggi menderita penyakit akibat:

  • Kekurangan Air Bersih: Suplai air bersih sangat minim.

  • Kepadatan: Pengungsi berdesakan, meningkatkan risiko penularan penyakit.

  • Kedinginan: Keterbatasan selimut dan tenda tambahan di dataran tinggi yang dingin.

Lumpuhnya akses darat memicu kelangkaan ekstrem kebutuhan pokok, bahkan di wilayah yang tidak terisolasi. Ini adalah ancaman nyata yang memperparah penderitaan 37 ribu pengungsi dan ratusan ribu warga lainnya:

  • Krisis Pangan: Beras dan gas LPG sulit didapatkan karena stok lokal telah menipis drastis.

  • Krisis Energi: Bahan Bakar Minyak (BBM) hampir tidak tersedia. Kelangkaan ini menghambat upaya penyelamatan; mobilisasi alat berat untuk membuka jalan, operasional ambulans, dan kendaraan logistik terhambat total.

Krisis di Bener Meriah semakin memburuk dengan lumpuhnya infrastruktur pendukung: hingga hari ini, listrik di seluruh wilayah Bener Meriah masih padam total. Kegelapan ini mengganggu upaya penanganan darurat di malam hari.

Lebih lanjut, dampak bencana juga memutus urat nadi informasi, dengan tidak tersedianya akses jaringan komunikasi di hampir semua wilayah.

Kondisi ini membuat koordinasi bantuan dari luar daerah terhambat dan menambah kecemasan keluarga yang terputus kontak.

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah memprioritaskan pengerahan segala sumber daya untuk mencoba membuka kembali akses jalan dan menyalurkan bantuan.Namun, skala kehancuran menuntut intervensi cepat dari Pemerintah Pusat.

KRISIS Bener Meriah adalah panggilan mendesak untuk bantuan logistik skala besar, terutama melalui jalur udara (airdrop), untuk menembus isolasi yang mematikan dan menyelamatkan nyawa 37 ribu pengungsi yang menderita serta ratusan ribu warga lain yang terancam.(wen)

BACA JUGA : PWI Bener Meriah Mantapkan Komitmen, Dari Seremoni ke Aksi Nyata

acehtourism