Pencarian Korban Bencana Dihentikan menjadi kenyataan pahit bagi masyarakat Bener Meriah setelah sembilan warga hilang tanpa kepastian hingga sekarang.
Kabut dingin perbukitan masih menyelimuti lokasi bencana, menyisakan lumpur mengering, kayu patah, serta kesunyian panjang menyayat hati.
Banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Bener Meriah pada 26 November 2025 setelah hujan deras turun berjam-jam.
Air bercampur lumpur menghantam permukiman warga, menyeret rumah, merusak fasilitas umum, serta memutus akses jalan antar kampung.
Suara gemuruh air dan longsoran tanah malam itu masih membekas dalam ingatan warga yang berhasil menyelamatkan diri.
Dalam hitungan jam, suasana kampung berubah menjadi kepanikan, tangisan, serta pencarian keluarga yang terpisah oleh bencana.
Perjuangan Panjang Tim SAR di Medan Berbahaya
Sejak hari pertama, pemerintah daerah mengerahkan tim SAR gabungan untuk melakukan pencarian korban yang dilaporkan hilang.
Personel Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat setempat bekerja tanpa mengenal waktu dan medan berat.
Mereka menyisir aliran sungai, membuka timbunan longsor, serta menggunakan alat berat di lokasi yang dianggap rawan.
Tim SAR juga menurunkan unit K9 atau anjing pelacak untuk membantu mendeteksi kemungkinan keberadaan korban tertimbun material.
Hari demi hari berlalu tanpa kabar menggembirakan, sementara hujan kembali turun dan memperparah kondisi tanah labil.
Risiko keselamatan personel meningkat seiring perubahan struktur tanah pascalongsor yang sewaktu-waktu dapat kembali runtuh.
Pemerintah daerah akhirnya mengambil keputusan berat dengan menghentikan pencarian korban untuk sementara waktu.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bener Meriah Ilham Abdi menjelaskan pencarian dihentikan karena minim petunjuk baru.
Ia menegaskan operasi belum ditutup sepenuhnya dan dapat dilanjutkan jika ditemukan tanda-tanda terang.
Sembilan Nama yang Masih Ditunggu
Korban hilang berasal dari beberapa kampung terdampak banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Bener Meriah.
Dari Kampung Blang Ara, dua korban belum ditemukan yakni Ismaul Ihsan berusia 30 tahun dan Irham berusia 30 tahun.
Sementara dari Kampung Rime Raya, lima warga dinyatakan hilang termasuk Robi Yusup, Alesya Zahira, dan Aliya Humaira.
Selain itu, warga lanjut usia Rukinem dan Ribu juga masuk dalam daftar korban hilang dari Kampung Rime Raya.
Dari Kampung Simpang Rahamat, dua warga lainnya yang belum ditemukan yakni Rabumahati berusia 40 tahun dan Eramli.
Bagi keluarga korban, penghentian pencarian menjadi pukulan berat sekaligus ujian kesabaran yang tidak mudah dijalani.
Setiap hari mereka menunggu kabar, berharap ada petunjuk kecil yang dapat membawa kepastian tentang nasib orang tercinta.
Posko pencarian kini mulai lengang, alat berat berhenti, namun doa keluarga korban terus mengalir tanpa henti.
Warga sekitar lokasi bencana masih kerap menyusuri sungai, berharap menemukan tanda-tanda yang terlewat tim pencari.
Meski Pencarian Korban Bencana Dihentikan, harapan tidak pernah benar-benar padam di hati keluarga dan masyarakat Bener Meriah.(wen)
Baca Juga :Bantah Naikan Tarif Secara Sepihak, Sarhamiza Tegaskan Surat yang Beredar













