Jakarta — Pemerintah memastikan Cadangan Minyak Indonesia tetap aman meski konflik geopolitik Timur Tengah terus memicu ketidakpastian global.
Pemerintah mengambil langkah cepat dengan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara alternatif.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah menjaga Cadangan Minyak Indonesia melalui strategi diversifikasi pasokan energi nasional.
Ia menjelaskan sekitar dua puluh hingga dua puluh lima persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah kini mengalihkan dua puluh lima persen dari total crude yang dipesan dari kawasan tersebut.
Langkah itu diambil setelah pemerintah mengkaji risiko konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pemerintah menilai ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dalam jangka waktu panjang.
Strategi Baru Pemerintah Amankan Cadangan Minyak Indonesia
Karena itu, pemerintah mengamankan Cadangan Minyak Indonesia dengan memperluas sumber impor dari Amerika dan Afrika.
Bahlil menegaskan pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk jika konflik kawasan terus meningkat signifikan.
Dalam skenario tersebut, pemerintah akan meningkatkan pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat sebagai alternatif utama.
Pengalihan pasokan ini juga mendukung implementasi kerja sama Agreement on Reciprocal Trade yang telah disepakati.
Presiden Prabowo Subianto menandatangani kesepakatan tersebut bersama Presiden Amerika Serikat untuk memperkuat hubungan perdagangan bilateral.
Baca Juga : Stok BBM Terbatas, Antrean Kendaraan Mengular di SPBU Mawadah Redelong
Pemerintah memastikan kebijakan ini tidak mengganggu distribusi bahan bakar minyak di dalam negeri.
Impor bensin RON sembilan puluh hingga RON sembilan puluh delapan berasal dari luar Timur Tengah.
Selama ini, pemerintah memasok kebutuhan bensin dari kawasan Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia.
Pemerintah juga telah menyelesaikan impor solar sehingga kondisi pasokan domestik relatif stabil terkendali.
Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap satu kawasan pemasok energi utama.
Strategi diversifikasi tersebut memperkuat ketahanan energi nasional menghadapi dinamika geopolitik global yang berubah cepat.
Pemerintah terus memantau perkembangan situasi internasional guna menjaga stabilitas harga dan pasokan energi nasional.
Dengan langkah antisipatif ini, pemerintah optimistis mampu menjaga stabilitas energi dan Cadangan Minyak Indonesia tetap kuat. (wen)













