Redelong – Dunia olahraga di Kabupaten Bener Meriah kembali “ditampar” kebijakan anggaran yang dinilai tak berpihak. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setempat bersama para pengurus cabang olahraga (cabor) bersiap mendatangi DPRK untuk mengadukan nasib mereka yang kian terjepit.
Pasalnya, anggaran untuk menghadapi Pekan Olahraga Aceh (PORA) 2026 yang diajukan sebesar Rp2 miliar, justru hanya diakomodir Rp200 juta oleh Pemerintah Kabupaten Bener Meriah. Angka ini dianggap jauh dari kata layak, bahkan disebut sebagai bentuk pengkerdilan dunia olahraga.
Ketua KONI Bener Meriah, Edi Zulkifli, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai kebijakan tersebut bukan sekadar pemangkasan anggaran, melainkan pukulan telak bagi masa depan atlet daerah.
Pernyataan itu disampaikan langsung Ketua KONI Bener Meriah, Edi Zulkifli, di hadapan pengurus KONI dan cabang olahraga (cabor), Senin (30/3/2026).
“Ini bukan lagi soal cukup atau tidak. Ini sudah masuk kategori tidak serius. Bagaimana mungkin kita bicara prestasi kalau dukungan anggaran seperti ini?” tegasnya.
Ia mengungkapkan, kondisi ini bukan yang pertama. Pada Pra PORA 2025, KONI juga mengalami hal serupa. Anggaran yang semula disetujui Rp1 miliar, justru menyusut menjadi Rp300 juta setelah pergantian kepemimpinan. Setelah melalui berbagai upaya, angka itu hanya mampu dinaikkan menjadi Rp500 juta.
“Dulu Rp1,8 miliar saja kita rasa sangat minim. Sekarang hanya Rp200 juta. Ini bukan kemajuan, tapi kemunduran yang nyata,” ujarnya.
Tak tinggal diam, KONI Bener Meriah telah menyurati DPRK agar memfasilitasi audiensi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 1 April 2026.
Dalam audiensi itu, KONI berencana mempertanyakan secara langsung komitmen pemerintah daerah terhadap pembinaan olahraga yang selama ini menaungi puluhan cabang olahraga dan ratusan atlet.
Edi juga mengajak seluruh pengurus KONI dan cabor untuk hadir bersama dalam audiensi tersebut. Ia menegaskan, ini adalah momentum penting untuk memperjuangkan nasib atlet Bener Meriah.
“Kalau kita diam, maka jangan salahkan kalau atlet kita kehilangan harapan. Ini soal masa depan generasi,” katanya.
Kebijakan penganggaran ini pun mulai menuai sorotan. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dinilai tidak menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap pembangunan olahraga. Di tengah tuntutan prestasi, dukungan yang diberikan justru terkesan setengah hati. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya target di PORA 2026 yang terancam, tetapi juga masa depan pembinaan atlet di daerah yang perlahan bisa mati suri.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Ilham Abdi, menyampaikan bahwa pemerintah tetap memiliki komitmen mendukung keikutsertaan atlet pada PORA 2026.
Ia menyebut Bupati Bener Meriah, Ir. Tagore Abubakar, memastikan adanya penambahan anggaran, meskipun harus melalui proses rasionalisasi sesuai kondisi keuangan daerah.
Menurut Ilham, saat ini pemerintah daerah tengah menghadapi defisit anggaran, ditambah beban penanganan bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 lalu.
“Pemerintah tetap berkomitmen, namun perlu penyesuaian. Kami berharap KONI dapat menyusun kembali skala prioritas agar anggaran yang tersedia bisa digunakan secara efektif dan tepat sasaran,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, waktu pelaksanaan PORA 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Aceh Jaya pada November mendatang masih memberikan ruang untuk penyesuaian anggaran.
Selanjutnya, usulan dari KONI akan kembali dikaji oleh TAPD sesuai kemampuan keuangan daerah.(Gona)













