REDELONG — Ekspedisi Sah Raja dimulai sebelum matahari menemukan jalannya, ketika harapan harus lebih dulu melangkah dalam gelap.
Ekspedisi itu bukan sekadar perjalanan, melainkan panggilan nurani menuju Kampung Sah Raja, pelosok sunyi di Aceh Timur yang berbatasan dengan wilayah Bener Meriah.
Sah Raja bukan sekadar titik di peta, melainkan rumah bagi masyarakat Gayo yang bertahan di tengah keterisolasian dan bencana.
Relawan Gayo bersama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mengusung misi kemanusiaan, membawa harapan melalui “Ekspedisi Sah Raja” yang sarat risiko.
Rombongan dipimpin Kepala Dinas Sosial Bener Meriah, Hasyimi, didampingi tim medis Dinas Kesehatan dan belasan relawan lintas organisasi.
Sebanyak tujuh puluh orang bergerak bersama, mengangkut sekitar lima belas ton logistik untuk warga yang mengungsi akibat banjir bandang.
Bantuan itu berupa beras, sayuran, pakaian layak pakai, obat-obatan, perlengkapan bayi, hingga kebutuhan dapur bagi pengungsi.
Keberangkatan rombongan dilepas Wakil Bupati Bener Meriah, Ir Armia, Sabtu pagi, 10 Januari 2026, tepat pukul 07.00 WIB.
Doa dan harapan mengiringi langkah mereka saat kendaraan mulai melaju menembus jalan KKA menuju Keude Kuta Binjei, Aceh Timur.

Di titik itu, para reje kampung dan warga setempat telah menunggu, siap mengawal rombongan menembus jalur paling ekstrem.
Perjalanan berlanjut, namun medan berubah kejam setelah satu setengah jam melintasi hutan lebat dan jalan tanah berlumpur.
Jarum jam menunjukkan pukul 17.30 WIB ketika kendaraan pertama terperosok dalam kubangan lumpur pekat.
Matahari tenggelam perlahan, meninggalkan relawan berjibaku di tengah hutan, mendorong kendaraan yang tak kunjung bergerak.
Mobil double cabin yang disiapkan sebagai andalan pun tak berdaya menghadapi lengketnya tanah liat basah.
Teriakan komando maju dan mundur menggema, namun roda hanya berputar sia-sia di atas lumpur.
Puluhan relawan mendorong bersama, namun kendaraan pengangkut logistik tetap terjebak tanpa ampun.
Putus asa mulai menyelinap saat malam benar-benar turun, menyelimuti hutan tanpa cahaya dan jaringan komunikasi.
Tiba-tiba, deru mesin berat memecah kesunyian, sebuah truk 4×4 milik PT Tualang Raya muncul membawa harapan.
Dengan sling baja, truk itu dengan mudah melintasi jalan berlumpur dan mengevakuasi dua kendaraan yang terjebak paling depan.
Namun nasib berbalik ketika truk tersebut terperosok lebih dalam saat mencoba memutar arah di persimpangan sempit.
Relawan berusaha membantu, namun sopir truk menolak, emosi memuncak di tengah kelelahan dan tekanan.
Meski dilarang, relawan tak sanggup berpaling melihat kernet menarik sling berat seorang diri di tengah lumpur.
Akhirnya, relawan memilih mengevakuasi kendaraan lain secara mandiri, bertarung dengan waktu dan tenaga tersisa.
Truk bantuan memilih menyingkir, menyisakan relawan yang kembali berjibaku menyelamatkan satu per satu kendaraan.
Sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan berhasil keluar dari kubangan pertama dan melanjutkan perjalanan penuh risiko.
Namun nasib kembali menguji, beberapa kendaraan kembali terjebak tak lama setelah melaju.
Baca Juga :Bantah Naikan Tarif Secara Sepihak, Sarhamiza Tegaskan Surat yang Beredar Palsu
Dua truk pengangkut logistik akhirnya ditinggalkan di tengah hutan, masih bermuatan beras dan sayuran.
Raut wajah relawan kusam, tenaga terkuras, hati berat meninggalkan bantuan yang seharusnya segera tiba.
Sedikit persediaan makanan ditinggalkan bagi sopir, dengan janji akan kembali menjemput secepat mungkin.
Langkah dilanjutkan dengan cemas, hingga rombongan terhenti lagi oleh dua truk sawit terjebak parah..detik
Jalan sempit membuat mustahil untuk maju atau mundur, rombongan terjebak di tengah hutan tanpa pilihan.
Upaya sebelumnya telah gagal, menarik truk sawit bermuatan berat bukan perkara sederhana.
Malam semakin larut, relawan memilih beristirahat di tengah hutan, pasrah menunggu keajaiban.
Dalam kelelahan, Kepala Dinas Pertanian Uswatun Hasanah bersama relawan perempuan memasak untuk seluruh rombongan.
Nasi dan sayur sederhana menjadi penguat semangat, meski tak semua relawan kebagian makanan.
Keajaiban datang saat sinyal tiba-tiba muncul, ponsel Kepala Desa Sah Raja berhasil menghubungi pimpinan PT Tualang Raya.
Tak lama, kabar datang, truk 4×4 tadi segera dikirim untuk membantu relawan mencapai tujuan.
Sekitar dua puluh relawan berjalan kaki kembali ke titik kendaraan tertinggal, memindahkan logistik ke truk tangguh itu.
Harapan kembali menyala ketika truk bantuan tiba lebih dahulu tiba dan langsung mengevakuasi muatan.
Dengan susah payah, truk 4×4 itu bahkan mampu mengeluarkan truk sawit yang menghalangi jalan.
Satu jam kemudian, rombongan akhirnya mencapai Dusun Puring, Sah Raja, pukul 04.00 WIB Minggu dini hari.
Tubuh berlumpur, mata berat, namun rasa lega mengalahkan semua lelah yang membekas.
Warga menyambut dengan nasi putih, gulai telur, dan sarden hangat di tenda pengungsian.
Sebagian relawan langsung merebahkan diri, tak peduli nyamuk dan dinginnya malam hutan.
Pagi hari, bantuan lima belas ton akhirnya didistribusikan kepada warga yang kehilangan segalanya.
Sebanyak 214 rumah rusak berat, kampung nyaris rata, hanya puing dan kayu tersisa.
Tangis warga pecah saat bantuan diserahkan, pelukan hangat menghapus sekat antara relawan dan korban.
Ekspedisi Sah Raja menjadi bukti, kemanusiaan selalu menemukan jalannya, meski harus menembus lumpur dan gelap.
Ekspedisi Sah Raja membuktikan, ketika jalan terputus, kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.(wen)













