REDELONG- Setelah sempat diliputi kecemasan akibat rentetan getaran bumi, kabar baik akhirnya datang dari otoritas kebencanaan. Gempa Vulkanik Menurun, dan status Gunung Bur Ni Telong resmi diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).
Keputusan tersebut diumumkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Sabtu, 3 Januari 2026 pukul 14.00 WIB.
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan tren penurunan aktivitas kegempaan.
Bagi masyarakat Kabupaten Bener Meriah, pengumuman ini menjadi angin segar setelah hari-hari penuh kewaspadaan menjelang akhir tahun 2025.
Gunung Bur Ni Telong merupakan gunung api bertipe strato dengan ketinggian 2.624 meter di atas permukaan laut.
Gunung ini tidak hanya menjadi bagian dari bentang alam Aceh Tengah dan Bener Meriah, tetapi juga menyimpan potensi ancaman yang selalu dipantau ketat.
Pada 30 Desember 2025 malam, aktivitasnya meningkat tajam. Puluhan gempa vulkanik dangkal dan dalam terekam, bahkan beberapa di antaranya dirasakan langsung oleh warga.
Kondisi tersebut membuat status gunung dinaikkan ke Level III (Siaga) demi keselamatan publik.
Dalam situasi itu, sebagian warga memilih mengurangi aktivitas di sekitar lereng, sementara pendaki dan pengunjung dilarang mendekati kawasan kawah.
Kekhawatiran akan kemungkinan erupsi membayangi, meski secara visual kawah belum menunjukkan perubahan signifikan.
Memasuki awal Januari 2026, aktivitas kegempaan perlahan mereda. Data PVMBG mencatat, hingga 3 Januari siang hanya terekam tiga kali Gempa Vulkanik Dangkal dan 11 kali Gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan visual juga menunjukkan kawah Bur Ni Telong tidak mengeluarkan asap.
Fakta ini menjadi dasar kuat bagi Badan Geologi untuk menyimpulkan bahwa Gempa Vulkanik Menurun dan tekanan aktivitas di tubuh gunung relatif stabil.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penurunan status bukan berarti ancaman sepenuhnya hilang.
Sejak Juli 2025, Gunung Bur Ni Telong diketahui kerap mengalami fluktuasi kegempaan yang dipengaruhi oleh aktivitas gempa tektonik di sekitarnya.
Karakter gunung api ini tergolong sensitif terhadap guncangan, sehingga peningkatan aktivitas dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.
Potensi bahaya yang masih perlu diwaspadai antara lain erupsi freatik, yaitu letusan uap dan material vulkanik yang dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului peningkatan kegempaan signifikan.
Selain itu, hembusan gas beracun di sekitar area fumarol dan solfatara juga menjadi ancaman serius.
Terutama ketika cuaca mendung atau hujan yang dapat meningkatkan konsentrasi gas di permukaan.
Atas dasar itu, PVMBG tetap mengeluarkan rekomendasi ketat. Masyarakat, pengunjung, dan pendaki dilarang mendekati kawah dalam radius tiga kilometer.
Area fumarol dan solfatara harus dihindari, terutama pada kondisi cuaca buruk.detik
Kewaspadaan, menurut PVMBG, adalah kunci untuk hidup berdampingan dengan gunung api yang aktif.
Bagi warga Bener Meriah, Bur Ni Telong bukan sekadar gunung.
Ia adalah bagian dari kehidupan, sumber air, penanda alam, sekaligus pengingat bahwa alam memiliki dinamika yang tak bisa diprediksi sepenuhnya.
Saat aktivitas menurun, harapan tumbuh. Namun, di balik ketenangan yang kembali terasa, kesiapsiagaan tetap harus dijaga.
Gunung Bur Ni Telong hari ini memang lebih tenang.
Tetapi pesan dari para ahli jelas: waspada bukan berarti takut, melainkan siap menghadapi segala kemungkinan dengan informasi yang benar dan sikap yang bijak.(wen)
Baca Juga : Pemkab Bener Meriah Sudah Salurkan 339,6 Ton Beras untuk Korban Bencana Hidrometeorologi













