Ketika Air Datang Tanpa Ampun: Kesaksian Kepala Desa Sahraja dari Malam Banjir Bandang

Ketika Air Datang Tanpa Ampun
Kepala Desa Sahraja memberikan keterangan pers terkait peristiwa banjir bandang yang menerjang wilayahnya, sekaligus menyampaikan kondisi terkini warga serta harapan percepatan pemulihan pascabencana.

Ketika Air Datang Tanpa Ampun, tak ada waktu untuk ragu atau menunggu. Malam itu, 26 Desember 2025, langit Sahraja seolah menyimpan firasat buruk.

Angin berembus berat dan sunyi terasa menekan.  Kepala Desa Sahraja Sulaiman berada langsung di lokasi, bukan mendengar cerita dari orang lain.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana alam memberi tanda bahwa bencana akan datang.  Sejak sore, firasat banjir bandang sudah dirasakan.

Bersama warga, kepala desa mengambil keputusan cepat. Mereka memilih menyelamatkan nyawa lebih dulu daripada harta benda.

Proses evakuasi dimulai sebelum malam benar-benar menelan kampung. Dalam situasi genting itu, kebersamaan menjadi satu-satunya kekuatan saat Ketika Air Datang Tanpa Ampun.

Titik pengungsian pertama ditetapkan di Bukit WiFi, sebuah dataran tinggi yang dianggap paling aman.

Warga berjalan dalam gelap, menggendong anak-anak dan menuntun orang tua. Tangis dan doa menyatu di tengah langkah tergesa.

Dari tempat itu, kepala desa kembali memimpin evakuasi lanjutan menuju bangunan SMP di Dusun Puring demi keselamatan bersama.

Akhirnya, tiga titik pengungsian terbentuk: Dusun Puring, Dusun Serah Gala, dan Dusun Sahraja.

Baca Juga :Bantah Naikan Tarif Secara Sepihak, Sarhamiza Tegaskan Surat yang Beredar Palsu

Ketiganya menjadi saksi perjuangan warga menghadapi malam terpanjang dalam hidup mereka.

Ketika Air Datang Tanpa Ampun, kampung yang selama ini tenang berubah menjadi lautan gelap yang mengancam segalanya.

“Alhamdulillah, meski diterjang banjir bandang yang begitu dahsyat, tidak ada korban jiwa,” tutur Sulaiman.

Ia menegaskan bahwa keselamatan itu lahir dari kesiapsiagaan dan kebersamaan warga.

“Kami memastikan sebelum kejadian tidak ada yang tertinggal. Atas izin Allah, seluruh warga selamat,” katanya.detik

Air mulai naik sekitar pukul 04.00 pagi. Gelap belum beranjak, namun arus sudah mengamuk. Evakuasi terpaksa dilakukan menggunakan perahu sampan.

Rumah-rumah mulai hilang dari pandangan, diseret derasnya arus tanpa belas kasihan. Saat itulah warga benar-benar merasakan makna Ketika Air Datang Tanpa Ampun.

Sebanyak 214 rumah tersapu banjir. Dari total 244 kepala keluarga, hampir seluruhnya terdampak. Kepala desa memperkirakan ketinggian air mencapai 12 meter, bahkan melewati tiang-tiang listrik yang biasanya berdiri jauh di atas kepala manusia.

Hampir dua bulan berlalu, namun Sahraja masih terkurung. Akses jalan hingga kini hanya bisa dilewati sampai Dusun Serah Reje, itupun dengan kondisi yang sangat sulit.

Jalan yang rusak menjadi penghalang utama pemulihan kehidupan warga setelah Air Datang Tanpa Ampun.

Sebelum bencana, warga menggantungkan hidup dari kebun pisang, sawit, dan cokelat. Kini, sebagian besar hasil pertanian itu ludes.

Masih ada sedikit sisa di beberapa titik, namun tak bisa dikeluarkan karena jalan yang belum pulih. Hingga hari ini, hasil kebun tersebut belum pernah keluar dari kampung.

Yang hilang bukan sekadar tanaman, tetapi mata pencarian. Warga kehilangan sumber penghidupan dan kepastian masa depan.

Anak-anak pun menjadi korban paling sunyi. Sekolah rusak, buku dan seragam hanyut dibawa banjir. Sejak hari itu, mereka tak lagi bersekolah.

Kepala Desa Sahraja berharap pemerintah segera membenahi akses jalan agar kampung kembali terbuka.

Ia juga meminta perhatian untuk pembangunan rumah layak huni, sekolah, dan sarana ibadah yang hancur diterjang banjir.

Selain itu, warga yang kehilangan kebun membutuhkan dukungan agar dapat kembali berdiri.

Banjir bandang memang telah surut, tetapi penderitaan masih tinggal.

Sahraja kini hidup dalam penantian—menanti jalan terbuka, menanti sekolah kembali berdiri, dan menanti masa depan yang sempat hilang ketika air datang tanpa ampun.