REDELONG – Rute perjalanan darat dari Banda Aceh menuju Bener Meriah, yang seharusnya dapat ditempuh dengan lebih cepat, kini menjadi kisah perjuangan yang menguras tenaga dan biaya.
Bagi sebagian warga, seperti yang dialami oleh Hendrik, warga Bener Meriah, perjalanan pulang justru menghabiskan biaya total hingga Rp 320.000 per orang akibat kendala transportasi udara dan kerusakan infrastruktur darat.
Kisah ini berawal ketika Hendrik menjemput anaknya yang baru pulang di Banda Aceh. Awalnya, ia memilih jalur udara yang relatif cepat.
Hendrik berangkat dari Bener Meriah menuju Banda Aceh menggunakan pesawat Hercules dari Bandara Rembele ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM).
Namun, setelah tiga hari di ibu kota provinsi, masalah muncul. Tidak ada jadwal penerbangan pesawat Hercules yang kembali ke Bener Meriah dalam waktu dekat.
Dihadapkan pada ketidakpastian, Hendrik akhirnya memutuskan untuk menempuh perjalanan darat, sebuah opsi yang jauh lebih lama dan menantang, namun menjadi satu-satunya pilihan untuk segera kembali ke rumah.
Perjalanan darat ini terbagi menjadi beberapa etape dengan berbagai jenis moda transportasi yang digunakan, menggambarkan betapa rumitnya rute tersebut saat ini:
- Banda Aceh ke Tepin Mane (Rp 140.000): Etape pertama menggunakan transportasi umum dengan biaya Rp 140.000 per orang.
- Penyeberangan di Jembatan Tepin Mane (Rp 25.000): Setibanya di sana, perjalanan terhambat oleh kerusakan jembatan. Warga harus menggunakan keranjang seling untuk menyeberang, sebuah metode ekstrem yang menghabiskan biaya Rp 25.000.
- Tepin Mane ke KM 60 Bener Meriah (Rp 80.000): Dari lokasi penyeberangan, perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil pick-up Grand Max dengan tarif Rp 80.000 per orang.
- Longsor KM 60 ke Tangga Besi (Rp 15.000): Perjalanan kembali terputus akibat titik longsor di KM 60. Setelah melintasi longsor, perjalanan dilanjutkan dengan ojek RBT (Roda Dua Tangguh) menuju Tangga Besi dengan tarif Rp 15.000.
- Jalur Ekstrem di Tangga Besi (Waktu Tempuh 20-30 Menit): Di Tangga Besi, tantangan belum usai. Warga harus melintasi perkebunan dengan jalur yang sangat ekstrem selama 20 hingga 30 menit. Tidak ada biaya resmi untuk jalur ini, namun merupakan hambatan fisik yang signifikan.
- Tangga Besi ke Pante Raya (Rp 60.000): Setelah melewati jalur perkebunan, perjalanan terakhir dilanjutkan kembali menggunakan mobil pick-up menuju Pante Raya dengan tarif Rp 60.000.
Total biaya yang dikeluarkan Hendrik untuk satu orang, dari Banda Aceh hingga tiba di Bener Meriah, mencapai Rp 320.000.
Angka ini belum termasuk biaya makan dan pengeluaran tak terduga lainnya selama perjalanan yang panjang dan melelahkan tersebut.
Pengalaman Hendrik ini menjadi sorotan tajam terhadap kondisi infrastruktur yang menghubungkan dua wilayah penting di Aceh.
Keterbatasan akses udara dan putusnya jalur darat akibat kerusakan atau longsor memaksa warga untuk mengeluarkan biaya yang tinggi serta menempuh risiko dan waktu tempuh yang jauh lebih lama.
Perlu adanya perhatian serius dari pihak terkait untuk segera memulihkan akses transportasi, baik udara maupun darat, demi kelancaran mobilitas dan perekonomian masyarakat Bener Meriah dan sekitarnya.(wen)
Baca Juga :Jejak Pengkhianatan di Tanah AAB: Dari Tim Survei Menjadi Penguasa Lahan













