Bener Meriah – Rasa khawatir yang sempat menghantui masyarakat Kabupaten Bener Meriah perlahan sirna. Setelah beberapa pekan berada pada Status Level II (Waspada), Gunung Burni Telong kini resmi kembali ditetapkan pada Level I (Normal).
Penurunan status ini membawa kelegaan tersendiri, khususnya bagi warga yang bermukim di sekitar lereng gunung api setinggi 2.624 meter di atas permukaan laut tersebut.
Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Bener Meriah, Ir. H. Tagore Abubakar, dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (9/9/2025).
Ia menjelaskan bahwa keputusan penurunan status dilakukan berdasarkan kajian ilmiah yang matang, baik melalui pengamatan visual maupun data instrumental dari lembaga terkait.
Menurut Bupati Tagore, hasil pemantauan menunjukkan tren penurunan aktivitas vulkanik yang konsisten.
Intensitas kegempaan yang sebelumnya meningkat kini berangsur menurun, sementara tanda-tanda aktivitas magma juga tidak lagi menunjukkan potensi bahaya yang signifikan.
“Kondisi Gunung Burni Telong saat ini relatif stabil. Data yang ada menunjukkan aktivitas gunung terus melemah dan berada dalam batas normal,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, status Gunung Burni Telong sempat dinaikkan menjadi Level II pada 2 Agustus 2025 menyusul lonjakan aktivitas seismik.
Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, pada 12 hingga 13 Agustus 2025 terjadi 30 kali gempa vulkanik dalam (VA).
Aktivitas serupa kembali terpantau pada 21–22 Agustus 2025 dengan 24 kali gempa VA. Kondisi tersebut sempat memicu kewaspadaan pemerintah daerah dan masyarakat.
Namun, memasuki awal September, aktivitas gunung api menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.
Dalam rentang 1 hingga 7 September 2025, hanya enam kali gempa VA yang tercatat. Selain itu, pengamatan visual di kawah tidak menunjukkan adanya hembusan asap, menandakan aktivitas permukaan yang sangat rendah.
Meski status telah kembali normal, Bupati Tagore tetap mengimbau masyarakat dan para wisatawan agar tidak lengah.
Pendaki diminta tidak bermalam di sekitar kawah serta menghindari area fumarola dan solfatara, terutama saat cuaca mendung atau hujan, mengingat potensi gas beracun masih dapat muncul sewaktu-waktu.
Gunung Burni Telong sebagai gunung api strato yang menjadi salah satu ikon alam Bener Meriah, tidak hanya menyimpan potensi risiko, tetapi juga pesona alam dan nilai sejarah yang tinggi.
Dengan kembalinya status normal, diharapkan aktivitas wisata dapat kembali menggeliat, tentunya dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan kepedulian terhadap lingkungan. (wen)
BACA JUGA :PWI Bener Meriah Mantapkan Komitmen, Dari Seremoni ke Aksi Nyata
Baca Juga : Di Tengah Bencana, Dua Prajurit TNI Memangul Harapan Anak Kembar
detik













