Air Subuh Menghapus Sah Raja sebelum matahari terbit, ketika banjir bandang datang tanpa peringatan dan menghancurkan pemukiman warga.
Dalam gelap dan hujan deras, ratusan keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka, menyelamatkan diri demi nyawa.
Kampung yang berada di pelosok Aceh Timur ini dibangun puluhan tahun berubah menjadi puing hanya dalam hitungan jam.
Banjir bandang itu tidak hanya merobohkan rumah warga, tetapi juga meluluhlantakkan fasilitas umum. Sekolah dan tempat ibadah runtuh diterjang arus deras.
Bangunan yang selama ini menjadi pusat pendidikan dan kegiatan keagamaan kini tersisa rangka kayu dan lumpur tebal.
Perjalanan menuju Sah Raja dari Dusun Purung memperlihatkan kehancuran yang menyeluruh. Kebun pinang, durian, dan sawit hancur total.
Pohon tumbang dan tanaman mati, membuat warga kehilangan sumber penghidupan yang selama ini menopang ekonomi keluarga.
Memasuki Dusun Serah Reje, pemandangan semakin memilukan. Rumah-rumah warga hanya menyisakan pondasi.
Dinding roboh, atap hanyut, dan perabot rumah tangga lenyap terbawa banjir. Tidak ada lagi ruang yang layak untuk ditinggali.
Salah seorang warga setempat Rasidi, mengingat jelas detik-detik ketika air menguasai kampungnya. Ia tidak sempat menyelamatkan satu pun harta benda.
Keselamatan keluarga menjadi satu-satunya pilihan saat air terus meninggi.detik
Baca Juga :Bantah Naikan Tarif Secara Sepihak, Sarhamiza Tegaskan Surat yang Beredar Palsu
“Saat kejadian, saya hanya mengenakan kain sarung dan baju kaus. Semua yang lain habis,” ujar Rahmaddin lirih.
Ia menceritakan air mulai menggenang di depan rumah sekitar pukul 03.00 WIB. Warga masih berharap hujan segera reda.
Namun pada pukul 06.00 WIB, air telah masuk ke dalam rumah dan memaksa warga segera menyelamatkan diri.
Warga bergerak cepat mengevakuasi anak-anak lebih dahulu.
Dengan papan seadanya, mereka merakit perahu darurat. Anak-anak diantar menuju bukit yang lebih tinggi di tengah hujan deras dan arus kuat.
Setelah anak-anak selamat, warga kembali mengevakuasi ibu-ibu dan para lansia.
Para bapak menjadi kelompok terakhir yang dievakuasi. Setiap perjalanan rakit menjadi pertaruhan nyawa melawan arus banjir.
Di atas bukit, penderitaan belum berakhir. Tidak ada tenda atau perlindungan. Hujan terus mengguyur siang dan malam.
Warga bertahan dalam kondisi basah, kedinginan, dan kelaparan selama berhari-hari.
Hingga kini, Air Subuh Menghapus Sah Raja tidak hanya berarti kehilangan rumah, tetapi juga hilangnya seluruh mata pencaharian warga.
Kebun rusak total dan belum bisa diolah kembali. Tanpa penghasilan, warga hidup dalam ketidakpastian. Warga berharap pemerintah segera hadir memberikan solusi nyata.
Hunian sementara yang layak menjadi kebutuhan mendesak agar warga tidak terus hidup berpindah-pindah. Tempat tinggal aman dinilai penting untuk pemulihan fisik dan mental.
Selain hunian, warga juga berharap pembangunan kembali sekolah agar anak-anak tidak kehilangan hak pendidikan.
Ketersediaan air bersih sangat dibutuhkan karena sumber air warga tercemar lumpur dan material banjir.
Tempat ibadah yang hancur diharapkan segera dibangun kembali. Bagi warga, tempat ibadah menjadi ruang pemulihan spiritual dan kebersamaan pasca bencana.
Lebih jauh, warga Sah Raja berharap adanya program pemulihan ekonomi.
Bantuan usaha baru, pendampingan, dan modal sangat dibutuhkan agar warga dapat bangkit dan membangun kehidupan baru.
Kini, warga Sah Raja benar-benar terusir dari kampung sendiri.
Air Subuh Menghapus Sah Raja meninggalkan luka mendalam, namun juga menyisakan harapan agar negara hadir membantu mereka bangkit dari kehancuran. (wen)













