Redelong – Di tengah keterbatasan dan penantian panjang terhadap perbaikan permanen, masyarakat Kampung Burni Pase, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah memilih bergerak bersama.
Tanpa menunggu bantuan datang, warga bergotong royong memperbaiki jalan rusak yang menjadi akses utama penghubung Bener Meriah menuju Aceh Utara.
Jalan eks KKA Burni Pase ini merupakan jalur vital lintas kabupaten yang menghubungkan Bener Meriah, Aceh Tengah hingga Aceh Utara. Ribuan masyarakat setiap hari melintas membawa hasil pertanian, kebutuhan ekonomi.
Meski sebelumnya sempat ditangani pemerintah pasca banjir bandang dan tanah longsor pada 26 November 2025 lalu, kondisi jalan hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Ruas jalan yang menanjak, berbatu, dan sangat licin saat hujan membuat pengendara harus ekstra waspada. Tidak jarang kendaraan roda dua tergelincir, sementara mobil pengangkut hasil pertanian kesulitan melintas.
Melihat kondisi yang terus membahayakan, warga akhirnya berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya. Dana dikumpulkan dari sumbangan masyarakat serta pengguna jalan yang melintas.
Material berupa pasir, batu dan semen dibeli seadanya. Tanpa alat berat, warga bahu-membahu menghampar material dan meratakan badan jalan hanya dengan tenaga dan semangat kebersamaan.
Bagi masyarakat Burni Pase, jalan ini bukan sekadar akses transportasi. Jalan ini adalah urat nadi kehidupan jalur ekonomi petani, dan para pedagang.
Ketua DPRK Bener Meriah, MHD Saleh, menyampaikan apresiasi atas kepedulian masyarakat yang tetap menjaga keselamatan bersama melalui gotong royong.
Namun di balik apresiasi tersebut, ia menyampaikan pesan yang lembut namun tegas kepada Pemerintah Aceh agar segera menghadirkan solusi nyata.
Menurutnya, apa yang dilakukan masyarakat Burni Pase hari ini bukan sekadar kerja bakti biasa, melainkan cerminan kegelisahan rakyat terhadap keselamatan di jalan yang setiap hari mereka lalui.
“Ketika rakyat harus memperbaiki sendiri jalan penghubung antar kabupaten, itu artinya masyarakat sedang berjuang menjaga keselamatannya dengan kemampuan terbatas. Pemerintah Aceh tentu tidak boleh membiarkan kondisi ini berlangsung lama,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Ia menegaskan jalur eks KKA Burni Pase merupakan akses strategis distribusi hasil pertanian dataran tinggi Gayo yang menopang perekonomian masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Namun masyarakat hari ini membutuhkan kehadiran pemerintah secara nyata. Jalan ini bukan hanya milik Burni Pase, melainkan akses kehidupan masyarakat lintas daerah. Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas,” tegasnya.
MHD Saleh juga berharap anggota DPRA dari Daerah Pemilihan Aceh Tengah–Bener Meriah dapat bersama-sama mengawal percepatan penanganan permanen ruas jalan tersebut.
Menurutnya, semangat gotong royong masyarakat adalah bukti kecintaan rakyat terhadap daerahnya. Namun ia mengingatkan, kepedulian masyarakat tidak seharusnya menggantikan tanggung jawab negara dalam menghadirkan infrastruktur yang layak dan aman.
Gotong royong warga Burni Pase hari ini menjadi gambaran nyata kekuatan solidaritas masyarakat Gayo. Di balik peluh dan tenaga yang tercurah, tersimpan harapan sederhana hadirnya perhatian pemerintah agar jalan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat kembali aman, layak, dan permanen.













