REDELONG – Harga Galian C di Kabupaten Bener Meriah naik gila-gilaan hingga dua kali lipat di tengah situasi bencana alam yang masih dirasakan warga.
Kenaikan harga yang dilakukan secara sepihak itu memicu kemarahan puluhan sopir dump truk.
Mereka memilih mogok kerja dan menghentikan pengangkutan pasir sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat korban bencana.
Kenaikan Harga Galian C tersebut ditetapkan oleh Persatuan Pengusaha Galian C Bener Meriah tanpa melibatkan sopir dump truk sebagai mitra kerja di lapangan.
Dampaknya, para sopir berada dalam posisi sulit karena harus berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan pasir untuk memperbaiki rumah rusak akibat bencana.
Perwakilan sopir dump truk, Masyuda, mengatakan mogok kerja dilakukan karena para sopir tidak sanggup menanggung beban sosial dari kebijakan tersebut.
Ia menyebut, harga pasir ayak jumbo yang sebelumnya Rp 200.000 per truk kini melonjak tajam menjadi Rp 350.000.
“Kenaikan ini mulai berlaku sejak kemarin. Di tengah kondisi bencana seperti sekarang, kenaikan ini sangat memberatkan masyarakat. Kami sebagai sopir tidak tega,” kata Masyuda.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
Ia menilai biaya operasional angkutan tidak mengalami lonjakan karena harga bahan bakar minyak sudah kembali normal.
Namun demikian, pengusaha galian justru menaikkan tarif secara bersamaan.
“Kami tidak melihat alasan kuat untuk menaikkan harga. Minyak sudah normal, kondisi tidak berubah. Tapi harga pasir malah naik tinggi,” ujarnya.
Masyuda menjelaskan, para sopir dump truk selama ini berusaha menjaga harga jual kepada masyarakat agar tetap terjangkau.
Namun, kenaikan harga di lokasi galian membuat harga jual di lapangan ikut terdongkrak.
Di Kecamatan Bukit, harga pasir yang sebelumnya sekitar Rp 500.000 per truk kini terpaksa dijual hingga Rp 800.000. Sementara untuk wilayah yang jaraknya lebih jauh, harga yang sebelumnya Rp 1 juta per truk kini melonjak menjadi Rp1,5 juta.
“Kalau harga dari galian naik, otomatis harga jual ke masyarakat ikut naik. Ini yang paling kami khawatirkan karena warga sedang kesulitan,” jelasnya.detik
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat empat lokasi galian C yang masih beroperasi di Bener Meriah.
Keempat pengelola galian tersebut diduga telah bersepakat menaikkan harga secara serentak, sehingga para sopir tidak memiliki alternatif lain untuk mendapatkan material.
Atas kondisi tersebut, para sopir dump truk sepakat menghentikan sementara aktivitas pengangkutan pasir.
Mereka berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk menengahi persoalan kenaikan Harga Galian C dan melindungi kepentingan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah tidak tinggal diam. Ini soal kemanusiaan. Di tengah bencana, seharusnya semua pihak saling membantu,” tegas Masyuda.
Meski menghadapi kondisi jalan yang rusak, rawan kemacetan, dan risiko operasional tinggi, para sopir dump truk mengaku tetap menahan diri untuk tidak menaikkan tarif jasa angkutan.
Mereka berharap kebijakan kenaikan Harga Galian C dapat segera ditinjau ulang agar proses pemulihan pascabencana di Bener Meriah tidak semakin terhambat.(wen)
Baca Juga : Pemkab Bener Meriah Sudah Salurkan 339,6 Ton Beras untuk Korban Bencana Hidrometeorologi













