Kacaunya Lalu Lintas Jalan KKA: Waladan Terjebak 15 Jam di Tengah Lumpur dan Antrean

Kacaunya Lalu Lintas Jalan KKA
Kendaraan roda dua dan roda empat saling berebut jalur di tengah lumpur tebal saat Kekacauan Lalu Lintas Jalan KKA melumpuhkan arus Takengon–Lhokseumawe,

Kacaunya Lalu Lintas Jalan KKA – Lampu kendaraan menyala redup di antara kabut pegunungan Gayo ketika Waladan Yoga meninggalkan Takengon pada pukul 17.30 WIB.

Ia mengarahkan kendaraan ke Jalan lintas KKA dengan satu tujuan sederhana: mencari gas LPG dan BM yang dijual Cukup mahal di Takengon.

Jalan yang tampak tenang itu perlahan menunjukkan wajah aslinya—berlumpur, licin, dan penuh antrian.

Beberapa kilometer setelah memasuki kawasan Burni Pase, roda kendaraan berhenti berputar.

Lumpur tebal menutup badan jalan dan memaksa kendaraan bergerak pelan, lalu berhenti total.

Klakson bersahutan, mesin meraung, dan pengendara turun dari kendaraan mereka.  Di titik itulah Kekacauan Lalu Lintas Jalan KKA benar-benar terjadi.

Waladan menyaksikan langsung sepeda motor jenis Honda Beat dan Scoopy kehilangan traksi di tanjakan.  Para pengendara turun, mendorong motor dengan tenaga tersisa.

Ketua Bawaslu Aceh Tengah Waladan Yoga

Petugas di lapangan ikut membantu, mengangkat motor satu per satu agar bisa melewati kubangan lumpur.

Tak hanya sepeda motor, kendaraan roda empat seperti Avanza, Innova, L300, dan Gran Max ikut terjebak.

Para pengemudi memaksakan kendaraan melintasi jalan yang tidak mendukung.

Petugas harus mendorong mobil secara bergantian. Untuk menggerakkan satu mobil saja, mereka membutuhkan waktu hampir satu jam. Antrean pun semakin panjang.

Malam turun perlahan. Hujan tipis menambah licin permukaan jalan. Udara dingin menusuk tulang.

Waladan tetap bertahan di dalam antrean panjang bersama ratusan pengendara lain. Waktu bergerak lambat. Sangat lambat.

Ribuan sepeda motor melintas dari Bener Meriah menuju Lhokseumawe dan sebaliknya.

Banyak pengendara membawa karung cabai. Tidak ada yang mau mengalah.

Semua berebut ruang sempit di tengah lumpur. Situasi ini semakin memperparah Kacaunya Lalu Lintas Jalan KKA dan membuat perjalanan terasa tanpa ujung.

“Selama 15 jam kami terjebak di jalan ini. Kami tidak bisa bergerak dan hanya menunggu antrian terbuka,” ujar Waladan.

Sekitar pukul 09.00 WIB keesokan paginya, kendaraan mulai bergerak perlahan. Antrean terurai sedikit demi sedikit.

Waladan kembali melanjutkan perjalanan dengan penuh kewaspadaan. Setiap tanjakan menjadi ujian. Setiap meter terasa seperti perjuangan.

Siang hari, sekitar pukul 13.00 WIB, Waladan akhirnya tiba di Lhokseumawe, tepatnya di kawasan SPBU Batuphat.

Ia segera mencari BBM dan gas LPG untuk dibawa pulang ke Takengon.

Sebab di kota Takengon, Harga BBM bertahan di kisaran Rp 30.000 per liter.

Harga gas LPG melon melonjak hingga Rp 200.000 per tabung dan  Gas LPG 12 kilogram bahkan mencapai harga yang tidak masuk akal yaitu 800.000 pertabung.

Waladan menilai kondisi ini semakin memberatkan masyarakat Aceh Tengah yang tengah berjuang di tengah keterbatasan.

Ia berharap pemerintah segera turun ke lapangan untuk mengatur lalu lintas dan memperbaiki kondisi Jalan KKA.detik

Ia juga meminta pemerintah membatasi kendaraan yang melintas dan memprioritaskan kendaraan 4×4 atau mobil off-road hingga kondisi jalan benar-benar aman.

“Kita memahami masyarakat mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi sulit. Namun pemerintah harus mengatur arus lalu lintas agar semua bisa melintas dengan aman dan tertib,” tutup Waladan.

Baca Juga : Pemkab Bener Meriah Sudah Salurkan 339,6 Ton Beras untuk Korban Bencana Hidrometeorologi