REDELONG – Menyapa pengungsi dengan kepedulian bukanlah sekadar barisan kata, melainkan sebuah perjalanan batin yang menembus batas lelah.
Kepedulian itu tidak selalu hadir dalam bentuk pidato atau seremoni megah, melainkan menjelma dalam deru mesin kendaraan di jalanan berlumpur.
Tapak kaki yang gemetar saat melintasi jembatan darurat yang rapuh, serta ketulusan untuk hadir di tengah duka masyarakat terdampak bencana di Bener Meriah.
Menggunakan dua unit armada double cabin, rombongan pengurus KONI Bener Meriah membelah pagi yang dingin menuju Posko Unsyiah Lampahan.
Di sana, ribuan warga terpaksa meringkuk dalam tenda setelah “sang pelindung” daerah mereka, Gunung Api Burni Telong, menaikkan statusnya ke Level III (Siaga).

Ketakutan akan aktivitas vulkanik memaksa mereka meninggalkan kehangatan rumah demi keselamatan nyawa.
Perjalanan ini penuh tantangan. Saat melintasi jalur alternatif Karang Reje menuju Bandara Rembele, rombongan sempat tertahan oleh kemacetan panjang yang menyesakkan.
Namun, di dalam kabin kendaraan, semangat tak sedikit pun luntur. Ada dorongan yang lebih kuat dari sekadar rasa lelah: keinginan untuk segera tiba dan memeluk duka para pengungsi.
Setibanya di Lampahan, bantuan berupa beras dan air mineral diserahkan. Namun, suasana paling haru tercipta saat pengurus KONI menyapa warga satu per satu.
Di mata mereka, terpancar raut wajah lelah karena hanya sempat membawa barang seadanya saat mengungsi di bawah ancaman erupsi.
Ujian sesungguhnya dimulai saat rombongan beranjak menuju Posko Uning Baro di pelosok Digul. Jalanan yang rusak akibat longsor menjadi sangat licin.
Puncaknya adalah sebuah jembatan kayu darurat—satu-satunya akses yang tersisa setelah banjir bandang memutus akses utama.
“Jembatan kayu itu baru dibuat kemarin dan belum ada mobil yang berani melintas,” bisik seorang warga dengan nada khawatir saat menjemput rombongan di ujung jembatan.
Dengan napas yang tertahan dan kehati-hatian ekstra, kendaraan rombongan berhasil merayap di atas kayu-kayu tersebut.
Setelah melewati ketegangan, mereka beristirahat sejenak di tepi sungai yang masih menyisakan puing bencana.
Sambil menikmati makan siang sederhana pada pukul 14.00 WIB, mereka mensyukuri kesempatan untuk tetap bisa bergerak demi sesama.detik
Sesampainya di Uning Baro, bantuan yang diberikan terasa lebih personal: susu, roti, dan logistik bagi mereka yang rumahnya hancur diterjang banjir dan longsor.
Tak hanya itu, KONI Bener Meriah juga memastikan raga para pengungsi tetap terjaga dengan menyalurkan obat-obatan melalui Puskesmas Panteraya, Lampahan, hingga bidan desa di pelosok Digul.
Ketua KONI Bener Meriah, Edi Zulkifli, menjelaskan bahwa bantuan ini adalah buah kolaborasi antara KONI Aceh dan Pemerintah Daerah.
“Kami datang untuk menyapa pengungsi dengan kepedulian. Bantuan ini mungkin tidak besar, tapi kami berharap kehadirannya dapat meringankan beban dan menguatkan hati saudara-saudara kita,” ungkapnya tulus.
Momen paling menyentuh terjadi saat suasana pengungsian yang berat tiba-tiba berubah hangat.

Pengurus KONI mengajak anak-anak bermain dan bernyanyi bersama. Di tengah situasi sulit, tawa renyah bocah-bocah yang menggenggam susu dan roti itu seolah menjadi penawar duka.
Aksi kemanusiaan ini membuktikan bahwa di balik jalan licin dan jembatan yang rapuh, ada niat tulus yang takkan goyah untuk saling menguatkan. (uri)
Baca Juga : Pemkab Bener Meriah Sudah Salurkan 339,6 Ton Beras untuk Korban Bencana Hidrometeorologi













