Di lereng Bukit Barisan yang diselimuti kabut tipis, aroma Kopi Gayo tercium samar dari halaman rumah-rumah di Bener Meriah. Di sana, di tengah tumpukan jemuran biji kopi berwarna keemasan, para petani terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Senyum mereka merekah—sebuah pemandangan yang belakangan jarang terlihat.
Senyum itu hadir seiring kabar baik yang datang dari CV Danish Bintang Antara, perusahaan eksportir kopi asal Bener Meriah yang kini kembali menggeliat setelah menandatangani kontrak ekspor 5.000 ton kopi Gayo ke Tiongkok.
Baca Juga :Ekspor Kopi Gayo ke Tiongkok Berlanjut, CV Danish Serap 11 Ton di Hari Pertama
Namun, yang membuat petani benar-benar gembira bukan sekadar besarnya volume ekspor itu, melainkan keputusan unik sang mitra asal Tiongkok: mereka memilih membeli kopi Gayo dalam bentuk gabah, bukan green bean seperti lazimnya.
Langkah ini membuat petani bisa mengolah sendiri hasil panen sebelum menjualnya. Sebagai imbalan, mereka mendapatkan harga jauh lebih tinggi, yakni Rp51.000 hingga Rp57.000 per kilogram, tergantung mutu biji kopi.
Kabar dari Bukit: Harga yang Kembalikan Senyum Petani
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada perusahaan yang mau beli dengan harga bagus,” ujar Muktar, petani kopi asal Kecamatan Bukit, sambil menatap jemuran kopinya yang hampir kering.
“Kami bisa olah dulu hasil panen supaya nilainya lebih tinggi. Dulu, kami langsung jual ceri merah karena butuh uang cepat.” ucapnya.
Muktar bukan satu-satunya yang merasakan perubahan. Banyak petani di Bener Meriah kini mulai menjemur sendiri hasil panen mereka. Jalan-jalan kampung kembali dipenuhi tikar berisi biji kopi yang dijemur di bawah matahari. Aktivitas yang dulu mulai jarang, kini kembali menjadi rutinitas yang penuh semangat.
Dibalik Keputusan Tak Biasa: Kepedulian dari Negeri Tirai Bambu
Direktur CV Danish Bintang Antara, Nalla Husna Tagore Putri, menyebut keputusan membeli kopi dalam bentuk gabah lahir dari kesepakatan Bersama dengan Bupati Bener Meriah Ir Tagore Abubakar dengan mitra dagang asal Tiongkok.
“Mereka ingin model perdagangan yang lebih adil bagi petani. Dengan membeli gabah, petani bisa menikmati nilai tambah dari proses pengolahan,” ujar Nella kepada Rakyat Gayo.
Menurut Nella, harga yang ditawarkan bukan sekadar strategi bisnis, melainkan cara menjaga semangat dan kualitas petani kopi Gayo. “Kami ingin petani tetap bersemangat menjaga mutu. Harga yang kami berikan menyesuaikan kualitas gabah. Kami dan mitra Tiongkok sepakat, perdagangan ini harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat di hulu,” tambahnya.
Dari Lembah ke Pasar Dunia
Kopi Gayo memang telah lama menjadi primadona di pasar global. Cita rasanya yang khas—lembut, floral, dan rendah keasaman—menjadikannya salah satu varietas paling dicari di dunia. Namun, di balik harum reputasinya, petani sering menghadapi ketidakstabilan harga dan panjangnya rantai distribusi.
Kini, dengan sistem pembelian langsung dari petani, CV Danish mencoba membangun rantai pasok yang lebih pendek, transparan, dan berkeadilan.
“Kami tidak ingin ekspor hanya jadi cerita besar di atas kertas. Harus ada nilai yang kembali ke petani, karena mereka yang menjaga kualitas kopi ini dari tanah sampai ke cangkir dunia,” tegas Nella.
Harapan Baru di Tanah Gayo
Kerja sama ekspor ini memang baru langkah awal. Namun bagi para petani Gayo, langkah kecil itu berarti besar. Mereka kembali merasakan harga diri sebagai penjaga cita rasa kopi terbaik dunia.
“Selama ini kopi Gayo dikenal di luar negeri, tapi petaninya di sini sering susah. Sekarang, rasanya mulai adil,” kata Muktar sambil tersenyum lebar.nescafe
Di balik setiap cangkir kopi Gayo yang dinikmati di Shanghai atau Beijing, kini tersimpan kisah sederhana tentang tangan-tangan petani di dataran tinggi Aceh—yang kembali percaya, bahwa kesejahteraan dan keadilan bisa tumbuh dari biji kopi yang mereka rawat dengan cinta.













