Berita  

Reje Wihni Durin Enggan Beri Keterangan Usai Dicecar Penggunaan Dana Wisata

Wihni Durin
Ilustrasi Reje Kampung Wihni Durin meninggalkan forum pertemuan saat warga melontarkan pertanyaan terkait penggunaan dana wisata, disertai sorakan puluhan ibu-ibu yang hadir dalam musyawarah kampung.

REDELONG (RA) — Reje Kampung Wihni Durin Kasiman enggan memberikan keterangan panjang saat wartawan mengonfirmasi polemik penggunaan Dana Desa di wilayahnya.

Ia berdalih tengah fokus menyalurkan bantuan yang baru tiba di kantor desa agar segera diterima masyarakat yang membutuhkan.

Saat wartawan mengajukan pertanyaan lanjutan, Reje Kampung tampak emosional lalu menghentikan wawancara secara sepihak.

“Kalau mau lebih detail, silakan datang ke kampung. Sekarang saya mau membagikan bantuan dulu,” ujar Reje Kampung singkat.

Pernyataan tersebut muncul ketika wartawan Rakyat Gayo mendalami penggunaan anggaran Dana Desa tahun 2024 untuk pembangunan sektor wisata.

Anggaran wisata senilai Rp 10 juta diakui reje sudah ditarik pada tahun 2024, namun hingga kini belum direalisasikan pembangunannya.

Sementara itu, warga setempat menunjukkan sebuah video yang merekam sikap Reje Kampung saat menghadiri pertemuan bersama masyarakat.

Dalam rekaman tersebut, Reje Kampung terlihat emosional ketika warga mulai melontarkan pertanyaan terkait pengelolaan Dana Desa.

Ia kemudian memilih meninggalkan forum pertemuan saat pertanyaan warga semakin mengarah pada penggunaan anggaran desa.

Puluhan ibu-ibu yang hadir dalam pertemuan itu terdengar berteriak dan menyoraki Reje Kampung ketika ia meninggalkan lokasi.

Warga juga mengaku sempat mendengar adanya ancaman yang dilontarkan Reje Kampung dalam suasana pertemuan tersebut.

Ancaman tersebut, menurut warga, terutama ditujukan kepada aparatur desa yang sebelumnya telah mengundurkan diri dari jabatannya.

Sebelumnya, Reje Kampung telah menyampaikan klarifikasi terkait tudingan warga soal transparansi pengelolaan Dana Desa kampung tersebut.

berikut kami sajikan dalam sebuah WAWANCARA KHUSUS bersama Reje Kampung Wihni Durin

Pertanyaan:
Bagaimana tanggapan Anda terhadap surat warga yang meminta pemberhentian Anda sebagai Reje Kampung?

Jawaban Reje:
Laporan tersebut pertama sekali sudah disampaikan ke Camat Syiah Utama, kemudian dilanjutkan ke DPMK. Selanjutnya memang sempat terjadi kekacauan di desa.

Warga mengundang saya dan para petue secara lisan untuk pertemuan perdamaian.

Saya tetap menghadiri pertemuan itu, karena mungkin selama ini ada kekeliruan dan tidak ada masalahnya kita duduk bersama.

walaupun menurut aturan sebenarnya masyarakat tidak memiliki wewenang mengundang reje dan petue.

Namun dalam pertemuan itu hanya memancing emosi dengan berbagai pertanyaan, sehingga saya memilih meninggalkan forum agar kesannya tidak semakin tidak baik.

besoknya Warga kembali diundang ke DPMK. Namun setelah pertemuan tersebut dihadiri oleh Muspika dan para petua, tidak ada satu pun warga yang datang dan menandatangani daftar hadir.

Kami sudah menunggu hingga siang dan sudah dipanggil, tetapi mereka tidak mau datang, sehingga sampai sekarang belum ada keputusan.


Pertanyaan:
Apakah Anda mengakui adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaan Dana Desa selama kepemimpinan Anda?

Jawaban Reje:
Terkait penggunaan Dana Desa, semuanya ada aturannya. Pada tahun 2024 pengelolaan Dana Desa sudah diperiksa oleh Inspektorat.

Yang membuat keributan itu adalah mantan bendahara dan mantan sekdes saya di tahun 2024, padahal mereka mengetahui seluruh anggaran. Sementara untuk anggaran tahun 2025, sampai saat ini belum diperiksa.


Pertanyaan:
Bagaimana penjelasan Anda terkait Dana Ketahanan Pangan tahun 2024 sebesar Rp 144 juta dan realisasi penggunaannya?

Jawaban Reje:
Terkait sisa anggaran ketahanan pangan, sekitar Rp64 juta digunakan untuk membuat kedai dan menjual beras kepada masyarakat dengan harga murah. Uang tersebut tidak akan hilang.

Pertanyaan:
Mengapa pembangunan jembatan antar dusun tahun anggaran 2024 tidak terealisasi?

Jawaban Reje:
Untuk jembatan dengan anggaran Rp 2.799.000, bukan berarti tidak dibangun. Kayunya sudah dibelah dan sebagian sudah dipasang.

Namun ada juga masyarakat yang tidak senang dengan kepemimpinan kami dan membuat keributan.

Sebagian bahan sudah dipasang, dan sebagian lagi saya amankan di rumah karena harga kayunya mahal.


Pertanyaan:
Bagaimana dengan anggaran pelatihan pendidikan masyarakat tahun 2025?

Jawaban Reje:
Anggaran pelatihan sebesar Rp 6 juta belum ditarik dan dialihkan untuk penanganan bencana, sehingga total anggaran bencana menjadi Rp20 juta.

Dana tersebut digunakan dengan bahasa untuk biaya operasional Reje Kampung dan operator desa dalam menangani bencana.


Pertanyaan:
Apa saja kegiatan konkret dari Dana Wisata tahun 2024  senilai Rp 10 juta?

Jawaban Reje:
Anggarannya memang sudah ditarik, namun pelaksanaannya belum dilakukan karena kondisi jalan masih dalam proses pembangunan.

Jika jalan itu sudah selesai rencananya akan kita buat wisata itu dan tidak mukin tidak kita buat.

Secara pribadi jangan kan ada modal tidak ada modal pun akan saya buat memang tempatnya sangat cantik.

Tidak ada temuan pemeriksaan Ipektorat di tahun 2024 dan  saat ini masih bencana blum bisa dikerjakan jika ada temuan akan kita kembalikan kan tidak ada permaslahan.

Kedalanya itu tadi takutnya nanti setelah buat sekali pakek gak jadi sehingga kita tunda.

Setelah nanti proses jalan udah bagus baru kita buat.

Jika nantinya kegiatan belum dilaksanakan dan harus dikembalikan, maka akan dikembalikan ke rekening desa dan menjadi SILPA. detik

Baca Juga :Bantah Naikan Tarif Secara Sepihak, Sarhamiza Tegaskan Surat yang Beredar