REDELONG (RA) —Aksi Dua Prajurit TNI Memangul Harapan Anak Kembar terekam dalam sebuah video dan viral di media sosial TikTok.
Unggahan tersebut menuai apresiasi luas karena memperlihatkan ketulusan prajurit yang mendahulukan keselamatan warga meski mereka sendiri juga terdampak bencana.
Ketika bencana meruntuhkan jalan dan menguji ketabahan, pengabdian justru berdiri paling tegak.
Dua prajurit TNI memanggul dua anak kembar yang kelelahan—sebuah tindakan sederhana yang menjelma menjadi simbol kehadiran negara di tengah derita rakyatnya.
Peristiwa itu terjadi saat wilayah Kecamatan Permata dilanda banjir dan tanah longsor beberapa hari terakhir.
Akses jalan rusak, cuaca tak menentu, dan warga harus berjalan kaki menembus lumpur serta sisa material longsor.
Di tengah situasi itulah, dua prajurit berseragam loreng melangkah perlahan, menjaga keseimbangan di atas jalan licin sambil memanggul dua balita.
Momen Dua Prajurit TNI Memangul Harapan Anak Kembar penuh kemanusiaan tersebut terekam dalam sebuah video singkat dan diunggah oleh akun TikTok @dr.nuratul_husna.
Dalam unggahannya, sang ibu—seorang dokter yang juga terdampak bencana—menyampaikan rasa terima kasih yang tulus.
“Terima kasih kepada TNI yang membantu kami membawa anak-anak berjalan kaki, padahal kalian sendiri juga korban dan sedang mencari beras untuk keluarga,” tulisnya.
Video itu memperlihatkan dua prajurit TNI memanggul dua anak kembar, putra-putri dr. Nuratul, yang saat itu hendak kembali dari Kabupaten Bener Meriah menuju Lhokseumawe.
Tanpa narasi berlebihan, hanya langkah-langkah sunyi yang menyampaikan pesan kemanusiaan.
Dalam waktu singkat, video tersebut viral. Ditonton lebih dari 192 ribu kali, disukai 12.100 akun, dan dibagikan ratusan kali.
Namun di balik viralnya unggahan itu, tersimpan kisah pengabdian yang lahir dari ketulusan, bukan pencitraan.
Dari penelusuran media ini, dua prajurit tersebut diketahui berasal dari Kodim 0119/Bener Meriah, yakni Sertu Danu, personel Staf Logistik Kodim 0119/BM, bersama rekannya Koptu Husaini. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (11/12/2025).
Yang membuat kisah ini semakin menyentuh, kedua prajurit tersebut sejatinya sedang dalam perjalanan pribadi.
Mereka hendak menuju Lhokseumawe untuk menjemput anak-anak mereka yang sedang menimba ilmu di pesantren.
Sebuah perjalanan yang sarat rindu seorang ayah, namun Allah takdirkan menjadi jalan pengabdian bagi anak bangsa lainnya.
Kepada media ini, Sertu Danu menuturkan bahwa ia dan rekannya langsung tergerak saat melihat kondisi anak-anak tersebut.
“Kami lihat anak-anak itu sudah sangat lemas. Jalannya licin dan masih jauh. Saat itu kami tidak tahu sama sekali kalau ibunya seorang dokter,” ujarnya.
Sebagai prajurit dan juga ayah, naluri kemanusiaan tak bisa ditunda. Tanpa berpikir panjang, ia menawarkan bantuan untuk memanggul anak-anak tersebut demi keselamatan mereka.
Medan yang dilalui sangat berisiko—jalan berlumpur, sisa longsor, serta cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat.
Evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Setiap langkah dijaga, setiap pijakan diperhitungkan. Di tengah keterbatasan itu, keikhlasan menjadi kekuatan utama.
“Ini bagian dari tugas kami. TNI lahir dari rakyat dan akan selalu bersama rakyat,” ujar Sertu Danu singkat.
Bagi warga Desa Burni Pase, kehadiran TNI menjadi penenang di tengah kecemasan.
Di saat bencana datang tanpa aba-aba, kehadiran prajurit menjadi bukti bahwa negara tidak absen dan tidak meninggalkan rakyatnya.
Video itu mungkin akan berlalu dari linimasa media sosial. Namun bagi dua anak kembar itu, bagi orang tua mereka, dan bagi masyarakat yang menyaksikan langsung, kisah ini akan tetap hidup.
Tentang dua prajurit yang menunda rindu kepada anak-anak mereka di pesantren, demi memanggul harapan anak bangsa lain di tengah bencana.
Sebuah pengabdian yang sunyi, namun bermakna besar di hadapan Tuhan dan Indonesia.(wen)
Baca Juga :Jejak Pengkhianatan di Tanah AAB: Dari Tim Survei Menjadi Penguasa Lahan













