Menembus Longsor Demi Hidup, Kisah Pilu Petani Melintasi Jalan Origon

Menembus Longsor

BENER MERIAH – Nyaris lima bulan berlalu, namun derita warga di kawasan Origon seolah tak berujung. Setiap hari, para petani kopi di wilayah ini harus bertaruh nyawa Menembus Longsor yang menimbun jalan.

Aktivitas berbahaya Menembus Longsor ini terpaksa dilakukan karena akses utama yang terkubur material tanah tak kunjung mendapat sentuhan perbaikan dari pemerintah.

Warga terpaksa meniti jalur sempit yang licin dan labil, membawa beban hasil pertanian di atas kendaraan roda dua sembari dihantui ancaman longsor susulan yang bisa datang kapan saja.

Di empat titik terparah, akses jalan hampir terputus total. Kondisi ini memaksa perjalanan yang biasanya singkat menjadi perjalanan panjang yang penuh kecemasan. Terutama saat cuaca mulai mendung, warga dilingkupi rasa waswas jika tanah kembali bergerak.

“Beruntung hari ini cuaca panas. Kalau hujan sedikit saja, kami akan lebih sulit melintas,” ungkap M. Rasyidin, salah seorang warga yang rutin melewati jalur maut tersebut pada Kamis (23/4).

Baca juga : Jalan Pulang Yang Menggetarkan : Menembus Luka Bencana Dengan Sayap Baja Hercules 

Dampak kerusakan infrastruktur ini memukul telak sektor ekonomi, khususnya saat musim panen kopi tiba. Akibat medan yang sangat berbahaya, banyak buruh petik enggan datang ke perkebunan warga.

Hal ini menyebabkan hasil panen tidak terpetik tepat waktu, membusuk, dan menurunkan pendapatan petani secara drastis di tengah himpitan ekonomi yang kian menekan.

Menembus Longsor Perlawanan Melalui Iuran Swadaya

Karena bantuan alat berat yang diharapkan tak kunjung tiba, warga Origon akhirnya memilih berjuang sendiri. Dengan solidaritas tinggi, setiap pemilik kebun mengumpulkan donasi sebesar dua ratus ribu rupiah per orang.

Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk menyewa alat berat dan memperbaiki jalan secara mandiri dengan peralatan seadanya.

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa meski tanah menghalangi jalan mereka, warga menolak membiarkan harapan ikut tertimbun.

Mereka tetap melangkah, mengandalkan kekuatan gotong royong di tengah keterbatasan yang kian menyiksa.

Kini, harapan mereka hanya satu: agar Pemerintah Aceh segera turun tangan mengerahkan alat berat.

Bagi warga Origon, setiap meter jalan yang mereka bersihkan adalah perjuangan untuk mempertahankan hidup dan martabat mereka sebagai petani. (wen)