Di Bawah Pohon Durian-Di Kampung Meriah Jaya, Aceh, pohon durian menjadi saksi perjalanan hidup Muhammad rizal, yang akrab disapa Ijal.
Ia menggantungkan hidup dari durian, buah yang telah menghidupi keluarganya selama bertahun-tahun.
Sebelum bencana, lapak durian Ijal selalu ramai pembeli dari berbagai daerah.
Durian menjadi sumber penghasilan utama sekaligus kebanggaan keluarga kecilnya.
Namun semuanya berubah saat bencana melanda wilayah Bener Meriah.
Hujan deras merusak jalan, memutus jembatan, dan melumpuhkan akses distribusi.
Durian yang biasanya laris mendadak tak tersentuh pembeli.
Pengiriman terhenti total akibat keterbatasan akses dan kelangkaan bahan bakar minyak.
“Di awal bencana, durian benar-benar tidak laku,” kata Ijal mengenang masa sulit itu.
Ia hanya bisa memandang durian matang jatuh tanpa pembeli.
Aroma durian yang biasanya mengundang justru menemani kesunyian kebun.
Pendapatan menurun drastis, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
Meski begitu, Ijal memilih bertahan dan tidak meninggalkan kebunnya.
Di bawah pohon durian, ia merawat kebun sambil menjaga harapan tetap hidup.
Waktu perlahan membawa perubahan. Jalan mulai diperbaiki dan akses kembali terbuka.
BBM kembali tersedia dan aktivitas masyarakat mulai pulih.
Bersamaan dengan itu, minat masyarakat terhadap durian kembali tumbuh.
Ijal melihat peluang baru dari perubahan tersebut.
Ia tidak hanya menjual durian, tetapi menghadirkan pengalaman wisata alam.
Di kebunnya, Ijal mengembangkan konsep wisata berbasis kebun durian.
Pengunjung diajak menikmati durian langsung dari sumbernya.
Pengunjung dapat menunggu durian jatuh langsung dari pohon.
Momen itu menghadirkan sensasi alami yang jarang ditemui.
Setelah jatuh, pengunjung bisa memetik dan memilih durian sendiri.
Durian kemudian disantap di bawah rindang pepohonan.
Tempat ini dikenal dengan nama Wisata Jambo Drien.
Lokasinya berada di Kampung Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih.
Suasana kebun terasa sejuk dan alami.
Angin pegunungan dan rindang pohon menghadirkan ketenangan.
Soal rasa, pilihan durian di Jambo Drien sangat beragam.
Tersedia Musang King, Bawor, Duri Hitam, dan Montong.
Durian lokal Aceh juga menjadi favorit pengunjung. Rasanya legit dengan aroma khas yang kuat.
Harga durian tergolong ramah bagi wisatawan. Durian lokal dijual mulai Rp15.000 hingga Rp50.000 per buah.
Varian Montong dijual sekitar Rp50.000 per kilogram. Harga tersebut dinilai sepadan dengan pengalaman yang ditawarkan.
Wisata Jambo Drien tidak hanya menarik warga sekitar. Para pelancong luar daerah juga mulai berdatangan.
Tempat ini bahkan menarik perhatian konten kreator. Salah satunya adalah Joe Sastra, konten kreator video drone.
Baca Juga : Pemkab Bener Meriah Sudah Salurkan 339,6 Ton Beras untuk Korban Bencana Hidrometeorologi
Joe datang untuk merasakan langsung wisata durian di alam terbuka. Ia mengabadikan kebun durian dari sudut pandang udara.
Menurut Joe, Jambo Drien menawarkan suasana yang nyaman dan alami. Tempat ini cocok untuk keluarga dan wisata santai.
Selain durian, Jambo Drien menyediakan fasilitas pendukung. Tersedia kolam bagi pengunjung yang hobi memancing.
Fasilitas karaoke juga tersedia untuk bersantai bersama keluarga. Area bermain anak disiapkan dengan aman dan nyaman.
Perpaduan alam, kuliner, dan hiburan menciptakan pengalaman berbeda. Pengunjung tidak hanya makan durian, tetapi menikmati kebersamaan.
Bagi Ijal, kebun durian kini memiliki makna lebih dalam. Ia bukan sekadar tempat mencari nafkah.detik
Di bawah pohon durian, Ijal menanam harapan pascabencana. Durian kembali menggerakkan roda ekonomi keluarga dan masyarakat.
Kini, Wisata Jambo Drien menjadi ruang pertemuan banyak cerita. Cerita tentang bangkit, bertahan, dan memulai kembali.
Bagi traveller, Aceh bukan sekadar tujuan wisata. Aceh adalah rasa, pengalaman, dan cerita yang melekat.
Manis durian Jambo Drien menyimpan kisah keteguhan. Kisah tentang hidup yang bangkit dari reruntuhan bencana.













