Malam itu, hutan Aceh Timur terasa lebih gelap dari biasanya. Lumpur menahan langkah, kelelahan menekan dada, dan harapan nyaris runtuh di wajah para relawan. Di saat itulah Raungan Besi di Tengah Lumpur terdengar—suara mesin truk 4×4 milik PT Tulang Raya yang menjadi penolong bagi Ekspedisi Kemanusiaan menuju Desa Sah Raja.
Satu per satu kendaraan relawan terjebak. Roda berputar sia-sia, tenaga manusia tak lagi cukup. Ketika rasa putus asa mulai hadir, truk 4×4 itu maju ke depan.
Dengan kekuatan penuh, kendaraan tersebut menarik mobil relawan keluar dari kubangan lumpur. Setiap tarikan bukan sekadar upaya teknis, melainkan pertolongan yang menghidupkan kembali semangat kami.
Truk itu pun sempat terperosok. Lumpur menelan rodanya, membuat semua terdiam. Namun sopir tidak menyerah.
Kernet mengaitkan seling baja ke batang pohon sawit, lalu sopir menginjak pedal gas.
Baca Juga :Bantah Naikan Tarif Secara Sepihak, Sarhamiza Tegaskan Surat yang Beredar Palsu
Mesin meraung, besi bergetar, dan truk itu bangkit. Raungan Besi di Tengah Lumpur malam itu terasa seperti doa yang dijawab.
Perjalanan belum berakhir. Dua truk pengangkut logistik—berisi lebih dari satu ton beras, sayuran, dan pakaian—harus ditinggalkan di tengah hutan.
Keputusan itu terasa berat. Wajah relawan tampak lelah, lapar, dan cemas. Namun di balik keputusasaan, kami masih menyimpan keyakinan bahwa bantuan akan datang.
Keyakinan itu terbukti. Saat komunikasi akhirnya tersambung, pimpinan PT Tulang Raya tanpa ragu kembali mengirimkan truk 4×4 dengan sopir berbeda.detik
Truk itu datang menembus gelap malam, mengangkut logistik, mengevakuasi kendaraan, bahkan menarik dua truk sawit yang sebelumnya mustahil dikeluarkan.
Berkat pertolongan itu, kami akhirnya tiba di Desa Sah Raja. Bantuan tidak menjadi sia-sia. Di balik lumpur, malam, dan rasa lelah, kami menyimpan satu ungkapan tulus: terima kasih.
Terima kasih kepada truk 4×4 PT Tulang Raya yang telah menjadi penyambung harapan.
Di jalan yang hampir menelan segalanya, Raungan Besi di Tengah Lumpur akan selalu kami kenang sebagai suara kemanusiaan.













