Di Balik Megahnya Bandara Rembele, Hak Ahli Waris Mangger Masih Menggantung

Di Balik Megahnya Bandara Rembele
Ilustrasi Seorang ahli waris memegang dokumen Akta Hibah di depan pagar Bandara Rembele, sementara pesawat lepas landas di belakangnya, menggambarkan harapan dan hak yang masih menggantung.

Di Balik Megahnya Bandara Rembele yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Gayo, ada hak keluarga almarhum Mangger yang masih menggantung tanpa kepastian hingga hari ini.

Deru pesawat yang lepas landas dari Bandara Rembele menghadirkan harapan kemajuan, namun menyisakan persoalan lahan belum terselesaikan.

Bandara tersebut diresmikan pada tahun 2016 oleh Presiden Joko Widodo, disambut antusias masyarakat Gayo penuh kebanggaan.

Peresmian itu menjadi simbol kemajuan daerah sekaligus membuka akses ekonomi baru bagi wilayah pegunungan Aceh.

Di balik kemegahan infrastruktur itu, keluarga almarhum Sulaiman HS yang akrab disapa Mangger masih menyimpan kegelisahan.

Sebagian tanah warisan mereka yang masuk kawasan pengembangan bandara belum sepenuhnya menerima pembayaran ganti rugi.

Armia, salah seorang ahli waris, menunjukkan dokumen lama yang tersimpan rapi di rumah sederhana keluarga.

Ia menyebut luas lahan yang belum dibayarkan mencapai lebih dari 24.000 meter persegi sesuai catatan resmi.

Tanah tersebut tercatat dalam Akta Hibah Nomor 46/BKT/2002 sebagai bukti legal kepemilikan yang sah menurut hukum.

Sebagian bidang telah dibayarkan, namun beberapa bagian lainnya hingga kini belum memperoleh penyelesaian administratif.

Menurut Armia, awalnya lahan itu direncanakan untuk pembangunan jalan jalur dua guna mendukung transportasi darat.

Rencana berubah setelah kebijakan perluasan kawasan Bandara Rembele ditetapkan demi mendukung pengembangan penerbangan regional.

Sejak kebijakan berjalan, proses pembebasan lahan dilakukan bertahap melalui mekanisme pemerintah yang berlaku resmi.

Namun bagi keluarga Mangger, proses tersebut terasa panjang dan belum menyentuh keseluruhan hak mereka.

Di Balik Megahnya Bandara Rembele, Harapan dan Penantian

Di Balik Megahnya Bandara Rembele, Armia menegaskan keluarganya tidak pernah menolak pembangunan untuk kepentingan masyarakat luas.

Mereka memahami pentingnya infrastruktur sebagai penggerak ekonomi, namun tetap menginginkan hak atas tanah dihargai.

Setiap kali pesawat lepas landas dari landasan yang kini berdiri kokoh di dataran tinggi.

Kebanggaan atas kemajuan daerah bercampur resah karena hak keluarga belum sepenuhnya ditunaikan pemerintah berwenang.

Armia menegaskan tuntutan keluarga bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan yang membawa manfaat masyarakat.

Mereka hanya meminta pemerintah meninjau kembali persoalan pembayaran lahan sesuai dokumen resmi tersedia.

Baca Juga : Perkuat Karakter Religius, Sekolah Gelar Pesantren Kilat Jelang Ramadan

Ia berharap Pemerintah Aceh membuka ruang dialog terbuka guna menyelesaikan persoalan secara transparan.

Kepastian hukum dinilai penting agar tidak muncul lagi keraguan atau kesalahpahaman dalam penyelesaian hak.

Selain keluarganya, Armia menyebut beberapa pemilik lahan lain mengalami situasi serupa hingga sekarang.

Mereka juga menunggu kepastian pembayaran ganti rugi atas tanah yang telah digunakan.

Persoalan pembebasan lahan kerap menjadi sisi kompleks dalam setiap proyek pembangunan infrastruktur strategis.

Administrasi berlapis serta perubahan kebijakan sering memperpanjang penyelesaian hak masyarakat terdampak.

Di Balik Megahnya Bandara Rembele, keluarga Mangger menyimpan harapan akan hadirnya keadilan nyata pemerintah.

Mereka percaya negara tidak akan membiarkan hak warganya terabaikan dalam pembangunan.

Kini Aceh dipimpin Gubernur Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem oleh masyarakat luas.

Para ahli waris berharap perhatian serius dapat diberikan demi menyelesaikan persoalan lama tersebut.

Bagi keluarga Mangger, pembayaran ganti rugi bukan sekadar persoalan nominal atau keuntungan finansial.

Lebih dari itu, mereka memaknainya sebagai penghormatan terhadap hak dan martabat keluarga.

Di beranda rumah sederhana yang menghadap perbukitan, percakapan tentang tanah warisan sering mengemuka.

Anak-anak mendengar cerita perjuangan orang tua menjaga lahan sebelum menjadi bagian bandara.

Mereka tidak menyesali tanah itu berubah menjadi fasilitas publik kebanggaan masyarakat Gayo.

Namun mereka berharap pembangunan tidak meninggalkan ketidakpastian bagi warga terdampak kebijakan.

Di Balik Megahnya Bandara Rembele, kisah keluarga Mangger menjadi pengingat pentingnya keadilan pembangunan.

Deru pesawat melambangkan kemajuan, tetapi kepastian hak warga adalah fondasi kepercayaan terhadap negara.

Selama kepastian belum hadir, harapan terus menggantung di langit Redelong yang berkabut. Keluarga Mangger menanti pembayaran hak sah agar dapat melangkah tenang ke masa depan.(wen)