Rumah Hanyut, Harapan Tersisa: Kisah Arniani Pasca Banjir Wih Pesam

 

Redelong,  – Sudah lebih tiga bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang wilayah Wih Pesam pada 26 November 2025 lalu. Namun bagi Arniani, waktu seakan berhenti di hari ketika rumahnya rata dengan tanah.

Di atas lahan kosong yang kini hanya menyisakan lumpur dan kenangan, tak ada lagi dinding tempat bersandar, tak ada atap untuk berteduh. Rumahnya di Kampung Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, hancur disapu air bah. Yang tersisa dari kehidupan yang dibangunnya bertahun-tahun hanyalah pakaian yang melekat di badan.

“Hanya baju di badan dan satu unit mobil kami yang selamat. Selain itu semua habis,” tutur suaminya, Wien Tatang, Selasa (3/3/2026), dengan suara lirih.

Tak hanya rumah dan kafe kecil milik mereka yang hilang. Dua unit sepeda motor Honda Scopy tahun 2013 dan 2016 ikut terseret arus. Mobil keluarga pun sempat terbenam lumpur di antara puing-puing bangunan yang runtuh.

Sejak hari itu, Arniani, Wien Tatang, dan anak-anak mereka menjalani hari-hari sebagai pengungsi. Mereka sempat menumpang di gudang kopi milik Mohd Amin. Di ruangan yang biasanya menyimpan hasil panen, keluarga ini bertahan dari dinginnya malam dan ketidakpastian esok hari. Beberapa waktu kemudian, mereka berpindah ke rumah milik Mugi di Kampung Wih Pesam.

Meski selamat dari maut, perjuangan mereka belum usai. Hingga kini, rumah yang masuk kategori rusak berat itu belum terdata sebagai penerima bantuan tahap pertama, baik hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap).

“Menurut dinas terkait, kami tidak masuk data tahap pertama. Mungkin sebelumnya tidak masuk pendataan dari desa. Padahal sebelum bulan puasa sudah kami laporkan ke Bedel Kampung Wonosobo,” ungkap Wien.

Harapan sempat tumbuh saat mendapat kabar bahwa nama mereka akan masuk dalam pendataan tahap kedua. Namun kepastian itu masih mereka tunggu.

“Katanya kami masuk gelombang kedua. Harapan kami semoga benar dan kami bisa dapat bantuan itu,” katanya penuh harap.

Untuk kebutuhan sehari-hari, keluarga ini mengandalkan bantuan beras dari Kampung Wih Pesam. Bahkan saat meugang menjelang Ramadan, mereka turut menerima pembagian daging seperti warga lainnya. Secara administrasi, Arniani memang tercatat sebagai warga Kampung Wih Pesam, meski rumah yang hancur berada di wilayah Kampung Wonosobo.

Bedel Kampung Wih Pesam, Nova Nuranda, menjelaskan bahwa pendataan huntara dan huntap berada di Kampung Wonosobo karena lokasi rumah korban di sana. Sementara bantuan jaminan hidup (jadup) akan masuk dalam pendataan Kampung Wih Pesam.

“Bantuan beras selama ini sudah kita salurkan. Untuk huntara, datanya di Kampung Wonosobo,” jelasnya.

Di tengah segala keterbatasan, Arniani dan keluarganya hanya ingin satu hal sederhana: kembali memiliki rumah. Tempat untuk memulai lagi, menata ulang kehidupan yang tercerai-berai oleh bencana.

Di Wih Pesam, di antara lumpur yang belum sepenuhnya kering, sebuah keluarga kecil masih menunggu—bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan untuk bangkit kembali.(Gona)