Menembus Luka Bencana – Fajar di Banda Aceh hari itu terasa bagai jeritan tertahan. Langit di atas Lanud Sultan Iskandar Muda diselimuti kabut tipis, sebuah tirai kelabu yang selaras dengan kecemasan di hati kami.
Di tengah landasan pacu yang sunyi, saya berdiri, bersama ratusan pasang mata yang menyimpan satu tekad: pulang. Kembali ke pangkuan Tanah Gayo yang kini sedang berdarah dan terluka parah.
Di sisi saya, anak saya, Hasrah, rekan seperjuangan PWI Iko Prananda, dan seorang atlet karate muda. Kami menanti, bukan sebagai wisatawan yang lelah, tetapi sebagai pasukan yang tertahan dari medan juang.
Kepulangan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan panggilan tugas yang menusuk kalbu. Sudah dua belas hari kami terpisah dari rumah.
Enam hari kami lalui dengan bangga mengawal kegiatan Pra-PORA di Simeulue, dan kini, enam hari kami terdampar tanpa daya di kota Raja.
Harapan kami telah direnggut. Jalur Lintas Nasional Bireuen–Takengon telah ditelan longsor kejam, sementara jalan lintas KKA terbelah dan hancur lebur.
Kami benar-benar terkunci, terisolasi sementara Pesawat komersial enggan mendekat. Setiap menit yang kami habiskan di Banda Aceh adalah pemberat jiwa.
Beban kerinduan kepada keluarga, beradu dengan beban tanggung jawab yang terus berteriak.
“Bagaimana mungkin saya harus berdiam diri sehingga saya memutuskan harus ada di sana! Rakyat Gayo menanti kabar, dan informasi tidak boleh terputus hanya karena jalan darat telah mati.”
Di tengah keputusasaan yang mencekik, sebuah mukjizat hadir. Sebuah pesawat besar, Hercules C-130 milik TNI AU, bersedia membuka pintunya.
Tujuannya bukan mengangkut penumpang, melainkan mengangkut nyawa—logistik bantuan kemanusiaan. Kesempatan itu adalah satu-satunya jembatan harapan yang harus kami rengkuh.
Ketika pintu masif Hercules terbuka, ia mengeluarkan deru mesin yang memekakkan, suara baja yang berjanji menantang maut. Di dalamnya, tidak ada kemewahan, tidak ada sandaran.
Hanya lantai logam bergelombang yang dipenuhi karung beras dan kardus, diikat erat-erat.
Itu adalah pemandangan yang menghujam: kami akan pulang, duduk rendah di atas tumpukan logistik untuk rakyat kami sendiri, merasakan beban yang mereka pikul.
Baca Juga : Pemkab Bener Meriah Sudah Salurkan 339,6 Ton Beras untuk Korban Bencana Hidrometeorologi
Saya menatap Hasrah, ada campuran kelegaan yang menusuk dan tekad yang menguat. Kami duduk merapat pada tumpukan kardus, merasakan getaran mesin yang merambat ke seluruh tulang.
Debu halus beterbangan. Kami adalah penumpang tak terduga, menumpang secercah harapan di tengah kesunyian tanpa basa-basi, hanya aba-aba tegas dari prajurit berwajah serius.
Saya menahan haru yang meluap. Di saat semua orang mencari zona aman, para prajurit TNI AU ini, tanpa pamrih dan tanpa keluh, menjadi urat nadi yang mengalirkan kehidupan bagi yang menderita.detik
KETENANGAN DI TENGAH BADAI TUGAS
Menembus Luka Bencana – Saat Hercules melesat ke langit, tubuh kami mungkin terguncang hebat, tetapi hati saya justru menemukan ketenangan yang dingin.
Dari jendela kecil, saya melihat Aceh membentang. Saya tahu, di bawah sana, Tanah Gayo sedang berjuang.
Hasrah memeluk tas laptopnya erat-erat, seolah memeluk mandat untuk terus berkarya. Di tengah raungan mesin yang memekakkan, tugas itu kembali hadir dengan jelas.
Sinyal mati, listrik terputus. “Saya harus pastikan! Bahkan di tengah kehancuran ini, suara kebenaran dan informasi tidak boleh dibungkam.”
Setelah puluhan menit yang terasa bagai penantian abadi, Hercules mencium landasan Bandara Rembele.
Saat pintu belakang dihempaskan, embusan udara dingin dataran tinggi Gayo langsung memukul wajah kami, membasuh segala lelah dan kekhawatiran yang menumpuk.
Saya tersenyum—senyum yang terasa seperti melepaskan belenggu berat dari dada.
“Terima kasih,” bisik saya tulus kepada seorang prajurit. “Kalian bukan hanya mengangkut barang. Kalian mengangkat martabat kami, harapan kami untuk kembali bekerja.”
Perjalanan ini adalah pelajaran yang terukir abadi.
Hercules mungkin pesawat yang bising dan keras, namun hari itu, ia adalah pesawat yang mengajarkan saya tentang solidaritas tak bersyarat, kerendahan hati dalam mengabdi, dan kekuatan persatuan di tengah krisis.
Bagi seorang jurnalis, pulang bukanlah akhir segalanya. Ia adalah gerbang menuju perjuangan yang baru.
Dan hari itu, saya pulang dengan cara yang paling keras, namun dengan rasa syukur yang meluap, siap memulai kembali tugas di Bener Meriah.













