Korban Banjir Bener Meriah Belum Tenang, Huntara Tiga Bulan Tak Kunjung Rampung

Redelong – Tiga bulan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bener Meriah, sejumlah korban hingga kini masih harus bertahan di rumah yang rusak dan tidak layak huni. Hunian sementara (Huntara) yang dibangun untuk para korban pun belum sepenuhnya rampung.

Kasman, warga Kecamatan Wih Pesam, menjadi salah satu korban yang masih menunggu kepastian untuk menempati Huntara tersebut. Rumahnya hancur diterjang banjir, sehingga ia bersama istri dan anaknya terpaksa bertahan di sisa bangunan rumah yang sudah rapuh.

Padahal, Kasman telah terdaftar sebagai calon penghuni Huntara di lokasi Dry Port Ketipis, Kecamatan Bukit. Di lokasi itu, pemerintah membangun Huntara bagi 72 kepala keluarga (KK) dari Kecamatan Wih Pesam dan 11 KK dari Kecamatan Bukit.

“Iya, mau tidak mau kami harus tetap bertahan. Padahal rumah yang kami tempati sekarang kondisinya sudah tidak nyaman,” kata Kasman saat ditemui di lokasi Huntara Dry Port Ketipis, Jumat (6/3/2026).

Ia berharap sebelum Hari Raya Idul Fitri mendatang dirinya bersama keluarga sudah dapat menempati Huntara tersebut. Pasalnya, setiap kali hujan turun mereka diliputi rasa khawatir.

“Harapan kami sebelum lebaran sudah bisa pindah. Supaya hidup lebih tenang dan tidak was-was kalau hujan turun,” ujarnya.

Harapan serupa juga disampaikan Asman, korban banjir bandang asal Kampung Uning Gelime, Kecamatan Wih Pesam. Ia mengaku sudah beberapa kali datang melihat perkembangan Huntara miliknya di Kampung Kute Kering, namun bangunan tersebut tak kunjung selesai.

Pada Jumat (6/3/2026), ia kembali datang ke lokasi Huntara bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut. Namun kondisi bangunan masih sama dan belum dapat ditempati.

“Masih seperti ini modelnya, belum selesai dikerjakan. Padahal bencana banjir sudah tiga bulan berlalu,” kata Asman.

Ia mengaku trauma dengan bencana yang terjadi pada 26 November 2025 lalu. Saat itu, banjir bandang membawa material bebatuan besar yang menimbun permukiman warga sehingga belasan kepala keluarga harus direlokasi.

“Kalau hujan kami sangat resah, takut air naik lagi. Apalagi kalau malam hari, warga jarang bisa tidur. Makanya saya sering datang melihat Huntara, siapa tahu sudah selesai,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, di lokasi Kute Kering terdapat 84 unit Huntara yang dibangun untuk korban banjir bandang dari Kecamatan Bukit dan Wih Pesam. Namun hingga kini baru 11 unit yang telah ditempati oleh para korban.

Sebagian warga bahkan sudah mulai memindahkan barang-barang ke dalam Huntara meskipun bangunan tersebut belum sepenuhnya layak huni.

“Barang-barang seperti tikar dan alat dapur sudah kami masukkan. Walaupun belum siap, kami berharap cepat selesai supaya bisa tidur tenang dan kembali memperbaiki ekonomi,” ujar salah seorang warga.

Kondisi serupa juga terjadi pada pembangunan Huntara di Kampung Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam. Di lokasi itu, sejumlah blok bangunan bahkan masih dalam tahap pemasangan rangka.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPKP Bener Meriah, Alpahmi, saat dikonfirmasi Sabtu (7/3/2026), mengatakan keterlambatan pembangunan Huntara di Dry Port Ketipis dan Wonosobo disebabkan sejumlah kendala teknis.

Menurutnya, di Wonosobo jumlah kepala keluarga penerima Huntara bertambah dari data awal sehingga jumlah unit yang harus dibangun juga meningkat. Selain itu, pada awal pembangunan sempat terjadi kelangkaan bahan bangunan.

Dalam rapat awal bersama BNPB serta Bupati dan Wakil Bupati Bener Meriah, disepakati mekanisme pembayaran dilakukan per blok bangunan.

“Satu blok terdiri dari lima kamar atau untuk lima KK. Namun pembayaran dari pihak terkait baru dilakukan sekitar seminggu lalu. Itu juga menjadi salah satu kendala,” jelas Alpahmi.

Sementara di lokasi Ketipis, pembangunan juga mengalami penambahan fasilitas berupa aula dan masjid.

“Kalau dari sisi PUPKP kendalanya lebih ke teknis. Namun untuk memastikan secara detail penyebab keterlambatan, sebaiknya dikonfirmasi langsung ke vendor pelaksana,” tambahnya.

Sementara itu, pelaksana pembangunan Huntara Kampung Kute Kering, Zaki, mengakui proses pembangunan sempat terhambat karena sulitnya mendapatkan material bangunan. Namun saat ini material sudah tersedia dan pekerjaan kembali berjalan.

“Sebelumnya material memang sempat langka sehingga pembangunan terhambat. Sekarang alhamdulillah sudah tersedia,” ujarnya.

Ia menargetkan seluruh Huntara tersebut akan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah sehingga para korban dapat segera menempatinya.

“InsyaAllah sebelum lebaran Huntara ini sudah rampung dan bisa ditempati warga,” pungkasnya.

(Gona)