Redelong – Kebahagiaan yang seharusnya dirasakan saat menyambut kelahiran anak ketiga justru berubah menjadi duka bagi Mas Mulyadi, warga Kampung Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh bagi keluarganya hanyut diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada 26 November 2025 lalu.
Ironisnya, saat bencana terjadi Mas Mulyadi tidak berada di rumah. Ia sedang menemani istrinya yang melahirkan anak ketiga di Kampung Bener Kelipah.
Namun ketika kembali ke Kampung Jamur Ujung, rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga sudah tidak tersisa.
“Saat kejadian saya sedang menemani istri melahirkan anak ketiga. Setelah pulang, rumah kami sudah tidak ada lagi,” kata Mas Mulyadi saat ditemui di Hunian Sementara (Huntara) Kampung Wonosobo, Jumat (6/3/2026).
Alih-alih menikmati kebahagiaan atas kelahiran buah hati, Mas Mulyadi justru harus menerima kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal.
Bersama belasan warga lainnya yang mengalami nasib serupa, ia sempat bertahan selama berbulan-bulan di tenda pengungsian yang disiapkan BNPB melalui BPBD di Kampung Jamur Ujung.
Setelah menunggu cukup lama, Mas Mulyadi bersama sekitar 15 kepala keluarga lainnya akhirnya dapat menempati hunian sementara sejak awal Ramadhan.
Saat ditemui awak media, Mas Mulyadi terlihat sedang membuat dapur sederhana di samping huntara yang kini ditempatinya agar keluarganya lebih leluasa memasak.
“Kalau dibandingkan dengan tinggal di tenda pengungsian tentu lebih nyaman di sini, walaupun kalau malam terasa cukup dingin,” ujarnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Mas Mulyadi mengaku tetap bersyukur karena kini keluarganya sudah memiliki tempat untuk berteduh, terlebih ia harus merawat bayi yang baru lahir.
“Alhamdulillah sudah ada tempat tinggal walaupun sementara. Kami juga dapat bantuan kompor gas, tikar dan lampu,” ungkapnya.
Ketika ditanya soal keluhan, Mas Mulyadi hanya tersenyum dan memilih bersyukur atas kondisi yang ada.
“Kita syukuri saja. Daripada terus tinggal di pengungsian. Apalagi kami ada anak bayi,” katanya.
Namun di balik rasa syukur itu, Mas Mulyadi mengaku kecewa dengan proses pendataan korban bencana yang dilakukan oleh dinas terkait. Ia mengatakan hampir tidak mendapatkan bantuan karena adanya kesalahan penginputan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada KTP miliknya.
Akibat kesalahan data tersebut, hingga saat ini bantuan stimulus ekonomi dari Kementerian Sosial sebesar Rp450 ribu per jiwa belum dapat ia terima.
“Seharusnya korban seperti kami yang diprioritaskan. Kenapa bisa salah data? Padahal dinas yang memasukkan data dan seharusnya bisa cepat memperbaikinya,” ujarnya.
Mas Mulyadi mengaku persoalan tersebut sudah ia sampaikan kepada dinas terkait dan dijanjikan akan segera diperbaiki.
Sebelumnya, ia juga hampir tidak menerima dana stimulan sebesar Rp8 juta akibat kesalahan data yang sama. Bantuan tersebut akhirnya dapat dicairkan setelah pihak kecamatan mengeluarkan surat keterangan sebagai jaminan.
“Kalau bantuan dari Kemensos Rp450 ribu per jiwa sampai sekarang belum kami terima. Katanya akan dimasukkan ke penerimaan tahap kedua,” jelasnya.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Mas Mulyadi berharap persoalan data tersebut segera diperbaiki sehingga bantuan yang menjadi haknya dapat segera diterima untuk membantu kebutuhan keluarganya.
“Semoga cepat diperbaiki supaya bantuan itu bisa kami gunakan untuk kebutuhan keluarga. Apalagi ini sudah mendekati lebaran,” harapnya.
Pantauan di lokasi Huntara Wonosobo, pemerintah merencanakan pembangunan hunian sementara bagi 89 kepala keluarga warga Kampung Jamur Ujung yang terdampak bencana. Namun hingga kini baru sekitar 15 kepala keluarga yang telah menempatinya.
Sementara itu, pembangunan huntara lainnya masih terus berlangsung. Sejumlah tukang terlihat masih bekerja menyelesaikan bangunan, bahkan beberapa unit hunian masih belum dipasangi atap.(Gona)













