Rahmi Tagore Tegaskan Video 17 Detik Hanya Diskusi Biasa, Bukan Bagi Proyek

Video 17 Detik

REDELONG – Rahmi Tagore menegaskan bahwa Video 17 Detik yang beredar kembali hanyalah percakapan biasa, bukan pembagian proyek.

Putri Bupati Bener Meriah sekaligus Ketua MPD itu memberikan klarifikasi setelah rekaman singkat tersebut kembali diperbincangkan masyarakat.

Menurut Rahmi, narasi yang menyebut percakapan dalam Video 17 Detik sebagai praktik bagi-bagi proyek tidak benar dan menyesatkan.

Ia menjelaskan bahwa rekaman tersebut sebenarnya bukan kejadian baru karena terjadi pada tahun lalu dan sempat beredar sebelumnya.

Saat pertama kali beredar, video itu tidak menimbulkan polemik besar seperti sekarang, sehingga ia menilai ada pihak membesar-besarkan isu.

Rahmi juga mengungkapkan bahwa dirinya bahkan sempat memposting foto terkait momen tersebut di akun media sosial pribadinya.

Postingan itu diunggah melalui Instagram dan Facebook pada 13 September 2025 sebagai bagian dari dokumentasi aktivitas biasa.

“Video itu hanya diskusi biasa, bukan pembagian proyek seperti yang dituduhkan,” kata Rahmiati saat memberikan klarifikasi kepada wartawan.

Ia menegaskan percakapan yang terekam dalam Video 17 Detik merupakan komunikasi umum yang tidak berkaitan dengan proyek pemerintah.

Polemik Video 17 Detik Dinilai Muncul Karena Potongan Informasi Tanpa Konteks

Menurutnya, potongan video yang tersebar di media sosial tidak menampilkan konteks utuh sehingga mudah menimbulkan tafsir keliru.

Karena itu Rahmi meminta masyarakat tidak langsung menarik kesimpulan hanya dari rekaman singkat tanpa penjelasan lengkap.

Sebagai Ketua MPD Kabupaten Bener Meriah, ia menyayangkan adanya pihak yang menggiring opini seolah terjadi praktik pembagian proyek.

Ia menilai penyebaran informasi tanpa konteks jelas dapat merusak reputasi seseorang sekaligus memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Baca Juga :Jejak Pengkhianatan di Tanah AAB: Dari Tim Survei Menjadi Penguasa Lahan

Rahmi menegaskan pentingnya sikap bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi, terutama ketika berkaitan dengan figur publik.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak mudah terpengaruh oleh potongan informasi.

Ia mengingatkan bahwa informasi yang belum diverifikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh situasi di ruang publik.

Rahmi juga menilai munculnya kembali Video 17 Detik kemungkinan sengaja diangkat ulang untuk membentuk persepsi tertentu.

Ia berharap masyarakat melihat persoalan secara utuh serta tidak terprovokasi oleh narasi yang belum tentu benar.

Rahmi mengajak semua pihak menjaga suasana kondusif dan tidak memperkeruh keadaan dengan penyebaran informasi tidak jelas.

Ia menegaskan klarifikasi ini disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan di tengah masyarakat Kabupaten Bener Meriah.(wen)