Pariwisata Bener Meriah Terpuruk, 23 Objek Wisata Rusak Usai Banjir Bandang

Redelong – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kabupaten Bener Meriah pada 26 November 2025 lalu meninggalkan dampak besar bagi masyarakat. Tidak hanya menelan korban jiwa, bencana hidrometeorologi tersebut juga memukul keras sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi warga dataran tinggi Gayo.

Sejumlah destinasi wisata andalan, khususnya wisata sungai dan agrowisata Kopi Gayo, rusak berat akibat terjangan arus banjir serta material longsoran.

Destinasi Sungai Tembolon dan Sungai Samar Kilang di Kecamatan Syiah Utama yang sebelumnya dikenal eksotis dengan panorama hutan alami kini berubah menjadi hamparan batu besar, kayu tumbang, serta sisa material banjir. Keindahan alam yang dahulu menjadi daya tarik wisatawan kini nyaris tak lagi terlihat.

Kondisi serupa juga terjadi di objek wisata Wih Kulus, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Lokasi yang dulunya ramai dikunjungi wisatawan tersebut kini hampir tidak menyisakan fasilitas setelah dihantam banjir bandang.


Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bener Meriah, Sukri Tomtars, menyebut bencana tersebut menjadi pukulan berat bagi sektor pariwisata daerah.

“Bencana ini bukan hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga hampir melumpuhkan sektor pariwisata, ekonomi masyarakat hingga akses jalan. Wisata Kopi Gayo yang menjadi penggerak ekonomi warga ikut hancur,” ujar Sukri, Ahad (1/3/2026).

Menurutnya, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata telah melakukan pendataan langsung terhadap objek wisata terdampak.

“Sekitar 23 objek wisata sudah kami data. Kondisinya sangat memprihatinkan karena sektor wisata ini menjadi sumber penghasilan masyarakat,” katanya.

Hasil pendataan tersebut telah disampaikan kepada pimpinan daerah serta Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai bahan penanganan dan pemulihan pascabencana.

Pada 28 Januari 2026 lalu, tim Kementerian Pariwisata RI yang dipimpin Asisten Deputi Bidang Destinasi Pariwisata, Bambang Cahyo Murdoko, turut meninjau langsung kondisi pariwisata di Bener Meriah. Beberapa lokasi yang dikunjungi sebagai sampel antara lain Pemandian Air Panas Weh Pesam, objek wisata milik Nasruddin di Jamur Ujung, serta Seladang Cafe milik Sadikin.

“Kami berharap seluruh objek wisata dapat ditinjau, namun karena keterbatasan waktu hanya beberapa lokasi yang sempat dikunjungi. Data lengkap seluruh destinasi sudah kami serahkan untuk dilaporkan kepada Menteri Pariwisata RI,” ungkapnya.

Biasanya menjelang Hari Raya Idulfitri dan hari besar lainnya, kawasan wisata di Bener Meriah selalu dipadati pengunjung. Namun tahun ini kondisinya diperkirakan berbeda karena sebagian besar objek wisata hilang terbawa banjir dan longsor, mengingat banyak destinasi berada di bantaran sungai serta kaki perbukitan.

Meski demikian, harapan baru mulai muncul. Pascabencana, masyarakat mulai membuka destinasi alternatif seperti wisata Sungai Umah Besi yang kini mulai dimanfaatkan sebagai lokasi rekreasi baru, meski fasilitasnya masih sangat terbatas.

“Kami berharap ada perhatian serius pemerintah agar sektor pariwisata bisa bangkit kembali. Pariwisata adalah harapan ekonomi masyarakat Bener Meriah,” tutup Sukri.

Provinsi Aceh sendiri dikenal sebagai daerah tujuan wisata unggulan yang menawarkan keindahan alam pegunungan, sungai, budaya, sejarah hingga wisata religi bernilai edukatif.
(Gona)