Redelong – Pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2026 yang digelar oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Bener Meriah menuai sorotan tajam. Sejumlah peserta hingga pegiat seni menilai proses penjurian berlangsung tidak objektif dan terkesan diskriminatif.
Kritik mencuat terutama pada cabang lomba monolog dan tari kreasi. Para peserta menilai hasil keputusan dewan juri tidak mencerminkan kualitas penampilan di lapangan. Bahkan, muncul dugaan konflik kepentingan setelah pemenang lomba disebut berasal dari sekolah tempat juri mengajar.
Salah satu pegiat monolog sekaligus lulusan seni pertunjukan, Yana, menyebut dewan juri tidak independen karena menilai karya peserta yang merupakan anak didiknya sendiri.
“Seharusnya dewan juri berasal dari pihak independen. Kalau juri menilai peserta dari sekolahnya sendiri, tentu objektivitasnya dipertanyakan,” ujar Yana, Sabtu (2/5/2026) kepada media ini.
Ia juga menyoroti sikap juri saat proses penilaian yang dinilai kurang profesional. Menurutnya, terdapat peserta yang mengalami kendala properti saat tampil, namun tidak mendapat solusi dari dewan juri
“Ada peserta yang propertinya tidak muat ke dalam ruangan. Peserta akhirnya tampil di depan pintu, sementara posisi juri tidak menyesuaikan meskipun arena berubah,” ungkapnya.
Selain itu, Yana menilai tidak adanya technical meeting terbuka sebelum perlombaan turut memperburuk situasi. Informasi teknis disebut hanya disampaikan melalui pesan WhatsApp pada malam hari menjelang pelaksanaan.
Tak hanya soal teknis, kompetensi dewan juri juga dipertanyakan. Yana menyebut juri yang ditunjuk bukan berasal dari kalangan pegiat seni, akademisi, maupun praktisi yang memiliki rekam jejak karya yang jelas.
“Juri tidak memahami juknis monolog, termasuk aspek idiom, frasa, dan penggunaan bahasa daerah. Ini menunjukkan kurangnya kompetensi di bidang yang dinilai,” tegasnya
Sorotan serupa juga terjadi pada cabang tari kreasi. Ia menilai penjurian tidak netral karena juri diduga tetap menilai peserta dari sekolahnya sendiri, sehingga terkesan ada kepentingan.
“Kalau pun bukan juri yang melatih langsung, tetap tidak pantas menilai peserta dari sekolahnya sendiri,” katanya
Ia bahkan menduga hasil juara telah diarahkan sejak awal, mengingat posisi juara I, II, dan III disebut berasal dari lingkungan yang sama dengan dewan juri.
Sementara itu, Ketua MKKS Bener Meriah, Razali, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan pelaksanaan FLS3N telah berjalan sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
“Semua data dan penilaian kami disesuaikan dengan juknis dan seluruh dokumen masih ada di dewan juri,” ujarnya singkat. (Gona)













