REDELONG – Bupati Bener Meriah Ir. H. Tagore Abubakar mendukung Program Blended Finance Model (BFM) 2026–2027 yang mendorong kelestarian hutan dan peningkatan pendapatan petani melalui pengembangan Kopi Gayo.
Dukungan tersebut disampaikan Tagore saat menghadiri kick-off Program Blended Finance Model (BFM) Tahun 2026–2027 Provinsi Aceh di KUPS Karang Puting, Desa Bale Redelong, Kecamatan Bukit, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan World Resources Institute (WRI) Indonesia itu turut dihadiri dirut BPDLH, Kementerian Kehutanan, Pemerintah Aceh, serta sejumlah kabupaten dan kota di Aceh.
Bupati Tagore menyebut program tersebut sangat luar biasa, terutama karena melibatkan pejabat tinggi yang memiliki kewenangan dalam menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan pendapatan petani.
Menurutnya, pengelolaan hutan secara berkelanjutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan.
“Program ini sangat luar biasa, terutama kehadiran para pejabat tinggi yang menentukan kelestarian hutan dan peningkatan pendapatan petani melalui hutan lestari,” ujar Tagore.
Kopi Gayo dan Arboretum Jadi Fokus Pengembangan
Selain mendukung program Blended Finance, Bupati Tagore mengapresiasi wacana pembangunan arboretum di Kabupaten Bener Meriah. Ia menilai arboretum dapat menjadi langkah awal untuk menjaga keberagaman varietas kopi dari berbagai negara.
“Arboretum ini adalah awal. Biasanya arboretum ditanami kopi dari berbagai negara yang ada di dunia,” katanya.
Tagore menegaskan, keberadaan arboretum perlu dipertahankan dan dikembangkan di Bener Meriah. Menurutnya, kawasan tersebut berpotensi menjadi tempat penyimpanan berbagai varietas kopi dunia.
Ia menyampaikan, upaya tersebut penting untuk menjaga keberagaman genetik tanaman kopi.
Apabila suatu negara kehilangan varietas tertentu, keberadaan arboretum dapat membantu mendukung upaya pelestarian dan pengembangan kembali varietas tersebut.
“Kita harus mempertahankan ini di Bener Meriah, sehingga jika negeri lain kehilangan varietas mereka, bisa datang ke Bener Meriah,” ujarnya.
Untuk mendukung rencana tersebut, Tagore mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare yang akan digunakan untuk pembangunan arboretum.
Bupati Tagore juga menjelaskan mengenai jenis kopi yang ditanam secara simbolis dalam kegiatan tersebut.
Ia menyebut kopi itu merupakan jenis Catuai, yang sebagian asal-usulnya berkaitan dengan pengembangan varietas dari India dan kemudian memperoleh nama lokal Gayo 1, Gayo 2, serta Gayo 3.
Menurutnya, pengembangan varietas kopi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung produktivitas dan kualitas hasil perkebunan masyarakat Bener Meriah.
Ia menilai program yang dijalankan WRI Indonesia di Bener Meriah menjawab kebutuhan petani, termasuk dukungan terhadap pembangunan sarana pengering kopi.
Tagore menyebut rumah pengering atau dry house menjadi salah satu kebutuhan penting petani karena puncak panen kopi sering berlangsung ketika musim hujan.
“Rumah pengering atau dry house sebenarnya dibutuhkan banyak petani, sebab puncak panen kopi terjadi pada musim hujan,” ungkapnya.
Bupati Tagore berharap Program Blended Finance dapat terus dilaksanakan dan memperoleh dukungan anggaran yang lebih besar. Ia menginginkan pembiayaan program tersebut dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani, terutama pada komoditas kopi.
Baca Juga : Blended Finance Buka Peluang Pembiayaan bagi 19 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Aceh
Menurutnya, dukungan pembiayaan berkelanjutan akan memberikan ruang bagi petani untuk mengembangkan usaha, meningkatkan kualitas produksi, serta memperkuat pengelolaan hasil perkebunan.
Tagore menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bener Meriah mendukung penuh pelaksanaan program tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada WRI Indonesia serta seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan Blended Finance.
“Kami mewakili Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menegaskan dukungan penuh terhadap program ini dan mengucapkan terima kasih kepada WRI serta semua pihak yang terlibat,” tutupnya. (Wen)












